Empat Movement Jam Tangan Wanita Yang Harus Diketahui

Ditulis oleh

Girl power for the win!

Bukan rahasia lagi bahwa dunia jam tangan mewah telah lama menjadi ranah kaum adam. Namun hal tersebut kini tengah mengalami pergeseran: kolektor-kolektor wanita mulai membeli jam tangan dalam jumlah rekor, dan pilihan mereka mencerminkan animo yang semakin besar untuk movement rumit.

Mereka memilih melalui dompet, dan brand-brand pun meresponsnya dengan memperbanyak koleksi jam tangan untuk wanita yang memiliki in-house movement yang bisa dibanggakan oleh seorang kolektor, baik pria maupun wanita. Berikut adalah beberapa contoh movement mekanis terindah dan terinovatif yang dirancang untuk pergelangan tangan wanita.

Patek Philippe Ladies First Chronograph

Sesuai namanya, Ladies First Chronograph yang diperkenalkan pada tahun 2009 menjadi jam tangan pertama yang menampilkan movement eksklusif Patek Philippe hand-wound chronograph yang sepenuhnya didesain dan diproduksi in-house. CH 29-535 PS merupakan sebuah calibre yang sungguh monumental, dan keputusan brand ini untuk merilisnya bukan dalam bentuk jam tangan pria namun wanita, menjadikannya kisah yang lebih spektakuler lagi.

Mesin chronograph orisinalnya, Ref. 7071, menjadi standar di butik-butik brand ini hingga 2016. Jam tangan ini dirilis kembali pada Baselworld tahun lalu dengan mesin reference baru yang menampilkan casing bundar yang elegan dan wajah yang sama sekali baru, tetapi dengan calibre yang sama.

Jaeger-LeCoultre Calibre 101

Merayakan ulang tahunnya yang ke-90 tahun ini, calibre yang memecahkan rekor dunia ini masih memegang gelar sebagai movement mekanis terkecil di dunia. Terdiri dari 98 komponen yang dibuat dengan tangan, Calibre 101 memiliki berat hanya satu gram dan berbentuk persegi panjang yang berukuran hanya 14 mm.

Karena hanya terdapat segelintir watchmaker yang menguasai proses pembuatannya yang super kompleks, Jaeger-LeCoultre hanya memproduksi 50 buah per tahun. Dan yang paling mencengangkan dari jewellery piece ini? Batu berliannya lebih besar dari ukuran movement-nya.

Blancpain Ladybird

Ketika Ladybird memulai debutnya lebih dari 60 tahun yang lalu, ia menjadi jam tangan ‘round’ terkecil di dunia, dengan movement yang sama kecilnya. Movement tersebut, Calibre R550, terukur hanya berdiameter 11.85 mm, tetapi menawarkan power reserve 40 jam yang luar biasa untuk ukurannya.

Ladybird mampu bertahan sebagai simbol keanggunan selama bertahun-tahun, dengan varian yang mengakomodasi selera kolektor wanita yang berubah. Pada 2016, Blancpain merayakan ulang tahunnya yang ke-60 dengan meluncurkan sejumlah variasi baru, termasuk edisi terbatas dengan self-winding movement yang telah diperbarui. Calibre 6150 yang baru berdiameter hanya 15,7 mm, yang menempatkannya persis di samping leluhurnya sebagai salah satu yang terkecil di dunia.

Christophe Claret Margot

Diperkenalkan pada tahun 2014, Margot adalah salah satu jam tangan paling superlatif yang akan pernah Anda lihat. Jam tangan wanita pertama dari brand ini yang mengusung high-complication, Margot menampilkan mekanisme cerdik yang terinspirasi oleh permainan anak-anak 'he loves me, he loves me not’.

Setiap kali sang pemakai menekan pusher pada pukul dua, sebuah—terkadang dua, tergantung keberuntungan Anda saat itu—kelopak bunga akan ‘gugur’ dari motif bunga yang ada di dial. Setelah semua kelopak bunga telah rontok, maka jawaban yang ditunggu-tunggu mengenai pertanyaan ‘apakah dia benar mencintaiku?’ akan muncul di sebuah jendela kecil yang bertempat di bilangan pukul empat.

Tetapi masih ada hal lebih lainnya dari jam tangan ini. Di bagian belakang, Margot memiliki dekorasi ukiran subtil di rotor automatic winding. Rotor ini dihiasi dengan sebuah ‘jantung’ yang dipernis merah dan dikelilingi oleh batu-batu berharga berwarna-warni yang melambangkan berbagai emosi. Rotor yang berputar akan berhenti pada satu ‘emosi’ dan takdir romantis pemakainya akan terungkap.

 

 

Diterbitkan di Kajian Mendalam
Brian Jones

Contributing Writer

Born in the outskirts of Washington D.C., Brian is currently based in the outskirts of Seoul. Along with writing about all things horological, he's been known to pen pieces on men's fashion, sports and popular culture. When he's not writing, he can be found travelling the continent, fumbling in his attempts to speak the local tongues.