Wawancara dengan Jean-Claude Biver

Ditulis oleh

"The watch is a blessed thing, almost like a religious artefact."

Pada umur 68 tahun, Jean-Claude Biver masih memiliki kekuatan spesial yang membuatnya selalu terdepan dalam pekerjaannya. Kepalanya dipenuhi oleh pemikiran mengenai apa yang dipakai oleh orang muda, musik yang mereka dengar, dan cara mereka bersosialisasi. Ia mengatakan bahwa merupakan “tanggung jawabnya” untuk memikirkan hal-hal itu—pernyataan yang sesungguhnya tidak adil untuk dibuat. Biver adalah salah satu dari sedikit senior papan atas yang dibutuhkan oleh industri jam tangan berusia ratusan tahun untuk mendapat jawaban mengenai cara merespon kondisi kontemporer dimana generasi muda meninggalkan jam tangan dan menggantinya dengan telepon genggam.

Menjadi pusat perhatian di Baselworld 2018 dengan ciri khas tangan yang mengepal saat menunjuk sesuatu, Biver tak terlihat kehilangan passion. Sebagai CEO TAG Heuer dan presiden divisi jam tangan LVMH yang mencakup brand Hublot dan Zenith, Biver tampaknya perlu merumuskan beragam strategi bisnis. Akan tetapi, satu formula yang ia terapkan di seluruh kanal bisnisnya adalah pertanyaan “Apakah produk yang dibuat memiliki soul?

“Sebuah jam tangan, yang tercipta dari kombinasi seni, ilmu pengetahuan, teknik, dan filosofi, merupakan produk yang memiliki jiwa. Inilah alasan saya masih percaya dan bersemangat terhadap bisnis ini,” ucapnya.

TAG Heuer Carrera Calibre 16 Chronograph

TAG Heuer Carrera merayakan ulang tahunnya yang ke-55. Bagaimana Anda membuat kolektor jam tangan muda tertarik dengan koleksi yang sudah hadir sebelum mereka lahir?
Ini adalah rahasia industri jam tangan Swiss bukan? Bagaimana Anda menjual Submariner, Speedmaster, Royal Oak, atau Nautilus? Ini adalah keajaiban bisnis jam tangan. Ini adalah satu-satunya bisnis yang bisa menjual produk yang diciptakan sejak lama dan masih relevan sampai saat ini. Kini ada banyak brand berupaya menjauh dari ikon-ikon klasik, contohnya Richard Mille dan Hublot. Hal tersebut tidak mustahil namun brand seperti itu akan menjadi niche brands. Tapi selama sebuah brand tak termasuk dalam pasar niche, maka brand tersebut pasti kembali ke pendekatan klasik.

Sebagian orang merasa bahwa klasik dan retro berkesan agak berlebihan.
Sejujurnya, saya berpikir bahwa permintaan akan jam klasik atau model jam ikonis akan berhenti, bahwa orang-orang pada suatu hari akan bosan. Itulah sebabnya kami menginjeksi kesan disruptif yang berbeda dengan tetap menjaga keseimbangan nuanasa klasiknya. Anda bisa melihatnya di kreasi-kreasi TAG Heuer. TAG Heuer Monaco Bamford adalah contoh bagaimana membawa modernitas ke dalam sebuah koleksi. Monaco 1969 jelas memiliki referensi klasik. Kami siap bilamana tren berubah ke arah yang berbeda.

Biver dengan George Bamford (kiri), TAG Heuer Monaco ‘Bamford’ automatic chronograph

Apakah anak muda usia 30 tahun pada masa kini mengapresiasi jam tangan dengan cara yang sama dengan generasi sebelumnya?
Saya pikir konsumen umur 30 tahun saat ini bahkan akan lebih mengapresiasi sebuah jam tangan setelah masuk ke dalam dunia penunjuk waktu ini dan mendapat berbagai pengetahuan. Kita dikelilingi oleh produk-produk yang lekang oleh waktu: telepon seluler, gambar di Snapchat yang hanya bertahan 24 jam. Kini semua hadir dalam durasi yang singkat, untuk satu momen saja. Orang-orang melihat berbagai hal, bereaksi, dan akhirnya melupakannya. Saat masyarakat hidup dalam gratifikasi yang singkat, hadir kebutuhan akan sesuatu yang lebih bertahan lama.

Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan perubahan zaman?
Saya bertahan karena saya memiliki passion terhadap apa yang saya kerjakan. Saya punya tanggung jawab untuk terhubung dengan masa depan, bukan masa lalu. Bagaimana cara agar tetap terhubung? Dengan mendengar dan belajar dari anak-anak. Orang tua berumur 50-an dan 60-an tahun tak bisa menolong saya. Saya sudah tahu apa yang mereka ketahui dan bagaimana mereka berpikir. Jika Anda berusia 15 tahun, Anda bisa menolong saya—karena saya tidak tahu apa yang diketahui oleh anak-anak. Saya bukan hanya mendengar, tapi saya juga belajar. Setelah saya belajar, saya mengingat.

TAG Heuer Connected Modular 45 (kiri) dan 41

Generasi Milenial mengatakan bahwa mereka menghargai sebuah pengalaman ketimbang sebuah produk. Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?
Saya sepenuhnya setuju. Pada tahun 1983 saya mengatakan, “Kita perlu menjual pengalaman kepada siapapun yang membeli jam tangan Blancpain”. Orang-orang bertanya, “Pengalaman apa?” Pengalaman yang dimaksud adalah membuat konsumen merasa bahwa mereka membeli sesuatu yang dibuat secara handmade di pertanian kecil di Swiss. Ini adalah benda yang “diberkati”, hampir sama seperti artefak religius. Satu-satunya “kepercayaan” yang dianut jam tangan adalah cinta. Cinta ini dimasukkan ke dalam jam tangan oleh orang-orang yang memiliki passion. Ini adalah konsep ‘pengalaman’ yang saya jelaskan pada staf penjualan pada tahun 1980-an silam.

 

Diterbitkan di Kajian Mendalam
Alvin Wong

Editor-in-Chief

Alvin promises not to be a douche when talking about watches. He may have scoured the Basel and Geneva watch fairs for the past 15 years, and played an instrumental role to the growth of Singapore's pioneering horological and men's lifestyle publications, but the intrepid scribe seeks to learn something new with each story he writes.  

www.crownwatchblog.com