Wejangan Hidup dari Martin Frei, Chief Designer dari Urwerk

Ditulis oleh

“Sebagai seniman, tanggung jawab utama kita adalah mempunyai rasa penasaran terhadap dunia.”

Seni dan sains tidak selalu menyatu, tapi di dunia Martin Frei, keduanya bisa hidup bersama. Pria berusia 52 tahun yang berbicara dengan lembut, dengan perawakan yang gentle dan tampak seperti pensiunan bintang rock, adalah pembawa obor pemberontakan dalam bidang artistik di dunia horologi; brand independen yang dia bangun bersama pria ajaib dalam watchmaking, Felix Baumgartner, pada tahun 1995 adalah contoh riuhnya kompetisi antara watchmaking nan avant-garde melawan watchmaking komersial.

Sekalipun demikian, Frei tetap meyakini bahwa “berpikiran logis” sekaligus menjadi seniman yang “tak kenal takut” adalah kunci kesuksesan Urwerk. Di sini, dia berbagi beberapa pelajaran hidup sepanjang perjalanannya di bisnis jam tangan.

Ingatlah bagaimana rasanya menjadi anak-anak
Saya pertama kali memiliki jam tangan adalah setelah melakukan Confirmation Ceremony di gereja. Itu adalah jam digital LCD, yang pada waktu itu merepresentasikan definisi keren bagi anak laki-laki. Itu mungkin adalah kenangan pertama saya tentang memiliki jam sendiri, dan saya tak pernah melupakan bagaimana rasanya. Itulah rasa yang ingin saya injeksikan juga ke dalam desain-desain saya.

Lihat titik-titik yang saling berhubungan
Saya ingat bahwa perbincangan pertama bersama Felix Baumgartner (atas, kiri) terasa seperti bermain ping-pong, banyak bolak-balik, dan ternyata kami menemukan banyak kesamaan yang mendasar sedari awal. Saat itu saya merupakan mahasiswa seni di Lucerne. Dia adalah sepupu dari teman saya, yang juga sesama seniman. Kami bertemu saat ada pesta mahasiswa dan mulai berbincang. Tak sengaja pula, karya yang sedang saya kerjakan–yaitu beberapa editan video–berfokus tentang pentingnya waktu. Mengedit video dan watchmaking tampak seperti dua hal berbeda, tapi konsep waktu sama-sama teraplikasikan pada keduanya.

Jadilah orang yang pemberani
Sebagai seniman, tanggung jawab utama kami adalah ingin tahu tentang dunia. Memiliki sarana finansial untuk bertahan hidup itu penting, tentu saja, tetapi itu bukan hal utama. Anda hanya melanjutkan dan melakukan apa yang perlu Anda lakukan, dan mengejutkan diri Anda saat Anda berada di sana. Anda tidak berpikir apakah itu perlu masuk akal; itu seni, seni kadang tidak masuk akal!

Seniman cenderung bekerja di ruang khusus tempat mereka mengeksplorasi ide dan kreativitas tanpa terlalu peduli tentang masalah material. Perasaan-perasaan itu kuat berada dalam diri saya dan itu kira-kira saat ini dalam hidup saya ketika saya bertemu Felix dan memutuskan untuk melakukan berbagai hal dengannya. Saya sedang 'arty' dan tak kenal takut. Jika saya tidak begitu, kami mungkin belum memulai Urwerk.

Model bisnis Urwerk bukan yang termasuk normal. Inti bisnisnya, kami memiliki motivasi untuk menciptakan dan melakukan hal yang berbeda. Kami juga tidak tertarik untuk memproduksi jam dalam volume tinggi dan mencetak uang dari sana. Saran saya–dan ini spesifik untuk para watchmaker muda yang ingin beroperasi di ceruknya bidang avant-garde horology–adalah cintai apa yang sedang dikerjakan, dan jangan terdistraksi dari tujuan utama Anda, yaitu menjadi kreatif.

Berpikirlah layaknya insinyur
Di satu sisi, Anda bisa bilang bahwa saya pernah berkali-kali gagal dalam membuat Urwerk sukses. Tapi saya tidak melihatnya sebagai kegagalanitu hanyalah masalah yang perlu dibereskan. Mungkin saya mewarisi pikiran ini dari ayah saya, yang merupakan seorang insinyur. Saya terpengaruh oleh caranya menghadapi tantangan.


Ayah saya tidak melihat masalah secara negatif. Ia justru mendapatkan kesenangan dari menyelesaikan masalah. Lihat saja astronot yang ada dalam insiden misi Apollo 13mereka menghadapi masalah, yang solusi tepatnya hanyalah bagaimana cara untuk bertahan hidup. Adalah cara berpikir jernih serta berpikir analitis yang menyelamatkan mereka hari itu. Saya tahu itu nyata karena ayah saya adalah bagian dari tim yang membuat modul pendaratan ke bulan.

 

Diterbitkan di Kajian Mendalam
Alvin Wong

Editor-in-Chief

Alvin promises not to be a douche when talking about watches. He may have scoured the Basel and Geneva watch fairs for the past 15 years, and played an instrumental role to the growth of Singapore's pioneering horological and men's lifestyle publications, but the intrepid scribe seeks to learn something new with each story he writes.  

www.crownwatchblog.com