Skip to main content

BEHIND THE SCENE: Menelisik proses kreatif, mutakhir, dan sarat tradisi di balik setiap karya Panerai dalam kunjungan istimewa ke manufaktur sang brand

Menelisik proses kreatif, mutakhir, dan sarat tradisi di balik setiap karya Panerai yang telah menghiasi pergelangan tangan aktor layar lebar hingga Paneristi.

Ditulis oleh Erika Tania

Fakta bahwa Panerai merupakan pemasok instrumen waktu dan jam tangan bagi Angkatan Laut Kerajaan Italia merupakan fondasi penting yang mendasari identitasnya hingga kini. Histori tersebut menjadi bukti nyata bahwa atas kemahiran mumpuni brand yang didirikan pada tahun 1860 di Firenze, Italia, tesebut dalam melampaui standar presisi rata-rata dari pemakaian sehari-hari. Namun sesungguhnya, Panerai baru tersedia secara komersial untuk publik umum di tahun 1993. 

Salah satu titik balik yang melambungkan nama Panerai adalah ketika Sylvester Stallone tengah syuting film Daylight (1996) di Roma pada tahun 1995. Sebuah kunjungan acak ke butik Panerai menjadi awal dari kecintaan sang aktor Hollywood terhadap desain utilitarian sang brand. Saking terpikatnya, ia tak hanya mengenakan jam Panerai di dalam film tersebut, tetapi juga membeli 200 jam tangan dengan ukiran tanda tangannya pada bagian caseback untuk diberikan kepada lawan main dan para kru. 

Dari situ, karya Panerai pun masuk ke dalam radar para penggemar horologi hingga memiliki pengikut setia yang menamai dirinya dengan sebutan Paneristi. Seiring popularitas yang kian memuncak, ekspektasi terhadap rilisan terbaru dari Panerai pun semakin tinggi. Lantas, bagaimana upaya Panerai dalam menyeimbangkan tradisi dan inovasi untuk memuaskan pengikut setia dan pelanggan barunya? Pada bulan April lalu, kami berkunjung ke manufaktur Panerai di Neuchâtel, Swiss, untuk mencari tahu jawabannya dengan melihat langsung proses produksi jam tangan Panerai masa kini.

ARTISANAL INDEPENDENCE

Bermula dari pembukaan sekolah watchmaking di tahun 1860 di Firenze, Italia, Panerai menjelma sebagai manufaktur horologi masif yang kini berdiri tegak di tanah seluas 10.000 meter persegi di Neuchâtel, Swiss. Pertama kali dibangun pada tahun 2002 dan direnovasi pada tahun 2014 lalu, manufaktur Panerai menaungi lebih dari 250 spesialis lintas bidang yang mentransformasi gagasan kreatif menjadi jam tangan estetis bermutu terbaik. 

Perlu Anda ketahui bahwa manufaktur ini didesain dengan kebijakan nol fosil. Artinya, pembangunan maupun pengoperasian gedung tidak melibatkan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Sebagai gantinya, manufaktur Panerai memanfaatkan 36 sensor geotermal dan pompa panas untuk menyejukkan maupun menghangatkan ruang, serta sepenuhnya mengandalkan energi listrik tenaga air.

Kehadiran kami disambut oleh jam dinding raksasa dengan indeks dan jarum berbinar hijau khas dial Panerai. Menengok ke sebelah kiri, terdapat sejumlah memorabilia yang dipajang. Mulai dari buku dan poster lawas, hingga mobil Fiat Balilla—dalam kondisi mulus dan masih dapat dikendarai hingga kini—dari tahun 1936 milik Giuseppe Panerai. Sedangkan, di sebelah kanan terdapat meja resepsionis di mana Jérôme Cavadini selaku Chief Operating Officer Panerai telah siaga untuk mengajak kami tur mengelilingi sang manufaktur.

“Kami memiliki empat pilar produk yang begitu kami banggakan. Mulai dari Luminor yang telah meraih sukses besar sejak lama; Submersible yang kami rilis dan posisikan ulang hingga berkontribusi besar pada omzet kami saat ini; Luminor Due yang selama dua tahun terakhir kami tawarkan dengan berbagai diameter, warna, dan opsi moonphase; serta Radiomir yang kami soroti kembali sebagai novelty di Watches & Wonders 2023,” jelas Jérôme sembari kami melewati lorong yang dilengkapi oleh ragam display jam tangan tersebut.

Destinasi pertama kami ialah ruang kerja divisi Research & Development di mana segala gagasan awal terlahir dan kemudian dikembangkan. Divisi ini tak hanya berfokus pada terobosan inovatif, tetapi juga memaksimalkan daya pikat desain pada setiap karya jam tangan Panerai. Pencapaian sang divisi terangkum dengan ringkas pada sebuah dinding yang menampilkan prototipe dan portofolio kreasi case, pelat dial, kristal safir pelindung dial, caseback, movement, serta temali. Setiap tahunnya, divisi Research & Development mendaftarkan sekitar tiga sampai empat hak paten, serta memperkenalkan sebuah material baru sekitar dua tahun sekali. 

Selama ini, Panerai memproduksi baja, kuningan, titanium, keramik Bronzo, DMLS, BMG TechTM, dan CarbotechTM  sendiri. Ketika ditanya material apa yang paling sukar diproses, Jérôme menjawab, “BMG TechTM karena prosesnya sangat kompleks. Jika proses pembuatannya berjalan dengan baik, hasilnya adalah material sangat kuat yang tidak mungkin gores sekalipun. Namun saat terjadi kesalahan, partikel-partikel tersebut akan menjadi amorf atau berpori-pori, bahkan menghasilkan retakan. Selama lima tahun terakhir, kami terus mengembangkan dan memperbaiki proses kami agar dapat memperoleh hasil yang 100 persen sempurna. Kini, kami sudah sangat dekat.”

Untuk mendukung kinerja divisi Research & Development, terdapat sebuah laboratorium khusus di mana ribuan pengujian dilakukan setiap tahun untuk memastikan keandalan dan kekuatan pada material-material buatan Panerai. Mulai dari kerapatan terhadap air, ketahanan terhadap guncangan, hingga penuaan produk dengan standar yang melampaui kriteria internasional. Stok material yang telah lulus uji disimpan di departemen industrialisasi untuk kemudian diatur penggunaannya sesuai kebutuhan produksi.

Jérôme mengungkapkan bahwa saat ini terdapat kurang lebih 100 proyek yang tengah berlangsung dalam waktu bersamaan. Selain memproduksi 48 referensi baru dari rilisan tahun ini yang tentunya mengonsumsi banyak waktu, manufaktur Panerai juga sedang menyiapkan 50 referensi untuk tahun 2024, serta tengah dalam proses menentukan novelty untuk Watches & Wonders 2025. Fakta bahwa hampir setiap komponen diproduksi, dirakit, dan diuji secara independen oleh Panerai menjadikan sang manufaktur sangat sibuk. 

MECHANICAL MARVELS

Meski memiliki pengetahuan dan kemahiran untuk memproduksi setiap model jam tangannya, Panerai mengaku tidak mempunyai semua mesin yang dibutuhkan dan lebih memilih untuk bekerja sama dengan pemasok untuk sebagian kecil dari total produksinya. “Kami tidak pernah mengklaim bahwa kami melakukan segalanya secara internal. Bukan karena kami tidak bisa melakukannya, melainkan kami memilih untuk mengutamakan efisiensi. Kami memercayakan sejumlah vendor eksternal untuk menyuplai beberapa komponen movement. Sedangkan untuk alasan keamanan, kami juga tidak memproduksi material emas kami sendiri,” jelas Jérôme.

Efisiensi tersebut terbukti menjadi strategi yang apik dalam menyediakan stok komponen dan material hingga 25 tahun ke depan untuk masing-masing model. Selain itu, Panerai juga memaksimalkan efektivitasnya lewat keterlibatan mesin dan robot canggih dalam tahapan produksinya. Jérôme mengungkapkan bahwa, “Pada awalnya kami khawatir akan mengurangi pegawai dengan adanya mesin automaton, namun nyatanya kini jumlah pegawai kami semakin banyak. Kami tidak ingin membuang waktu orang. Maka dari itu, kami biarkan robot saja yang melakukan pekerjaan sederhana nan repetitif. Di sisi lain, kami mengkoneksikan manusia dengan pekerjaan yang lebih bernilai. Hal ini membuat saya bangga.”

Kembali ke tur, kami bertolak ke divisi Machining di mana desain jam tangan diwujudkan menjadi kenyataan. Terdapat lebih dari 20 mesin CNC (Computer Numerical Control)—perangkat lunak komputer yang telah diprogram untuk menentukan pergerakan alat sesuai fungsi dan kebutuhan—modern yang memproduksi ragam elemen jam tangan di bawah pengawasan tim insinyur berpengalaman. Ragam komponen yang telah jadi kemudian dialihkan ke divisi Finishing di mana jam tangan fungsional ditransformasi menjadi karya seni dengan bantuan robot finis satin hingga laser pengukir.

Kolaborasi sinergis antara robot dan manusia juga terlihat pada divisi Assembly. Para watchmaker dengan kemahiran istimewanya merakit setiap komponen dan menghidupkan detak pada mekanisme. Proses perakitan pun dilakukan dengan sangat mendetail untuk memastikan jejak dan kelengkapan informasi dari setiap komponen. Setelah movement dikemas ke dalam case, pengujian terhadap tingkat presisi, ketahanan air, serta durabilitas temali dan pengait dilaksanakan oleh robot pengontrol kualitas. 

“Kami mengembangkan mesin penguji tingkat presisi bersama Clinical Laboratory Automation (CLA) dan awalnya kami meminta eksklusivitas atas mesin ini. Namun mengingat biaya produksi mesin yang sangat mahal, CLA membuat 10-12 mesin serupa dan menjualnya ke sejumlah brand horologi lain. Meski begitu, perlu dicatat bahwa kami adalah yang pertama,” ujar Jérôme. Dalam hal pengujian ketahanan air, Panerai berbangga diri sebagai satu dari dua manufaktur—hingga saat artikel ini ditulis—yang merendam seluruh jam tangan ke dalam air.

Paneristi adalah sahabat sekaligus kritikus terbaik Panerai. Berdasarkan penuturan Jérôme, sang brand memperoleh kritik saat merilis koleksi Luminor Due dengan tingkat kedap air hingga kedalaman 40 meter saja. “Kami adalah pendengar yang baik atas pendapat para Paneristi. Oleh karena itu kami memperbarui Luminor Due dengan kemampuan kedap air hingga kedalaman 50 meter. Menariknya, seorang jurnalis yang berkunjung ke manufaktur Panerai menantang kami untuk menguji jam tangan Luminor Due acak di kedalaman 200 meter. Hasilnya? Jam kami baik-baik saja,” cerita Jérôme.

“Sesungguhnya, kami tidak terkejut dengan tantangan tersebut karena kami tahu kualitas produk kami. Pengalaman ini mengajarkan bahwa kami harus lebih bersikeras dalam mengomunikasikan keunggulan teknis dari jam tangan Panerai,” lanjutnya. Kepiawaian Panerai sebagai manufaktur horologi dipresentasikan oleh para master watchmaker di divisi Haute Horlogerie. Berbagai inovasi yang berbuah mahakarya menakjubkan lahir di bawah naungan divisi ini.

Mulai dari jam tangan perpetual calendar, tourbillon, hingga minute repeater telah mendemonstrasikan kemutakhiran para watchmaker Panerai yang mengerjakan setiap langkah produksinya dari awal hingga akhir. Selain mengkreasikan jam tangan berkomplikasi tinggi untuk pelanggan secara umum, divisi Haute Horlogerie juga melaksanakan misi khusus dalam mewujudkan kreasi personal bagi kolektor beruntung.

“Terkadang, terdapat klien yang datang ke manufaktur dan memilih komplikasi dan konfigurasi desain dari beberapa opsi, kemudian berdiskusi langsung dengan watchmaker kami. Hari ini, seorang kolektor dari India akan menjemput hasil personalisasi jam tangan minute repeater dalam case hitam dan jarum merah yang telah ia pesan sejak 1,5 tahun lalu. Contoh lain ialah seorang klien yang meminta jam tangan platinum—material yang belum pernah kami olah sebelumnya. Kami setuju untuk melanjutkan personalisasi ini asalkan kami dapat membuat beberapa jam tangan platinum sekaligus dan menawarkannya kepada pelanggan lain, mengingat biaya produksi yang sangat mahal bila hanya memproduksi satu saja,” kisah Jérôme.

Bila saat ini Panerai melayani maksimal 50 jam tangan personalisasi dalam setahun, sang manufaktur berencana untuk memperkuat penawaran personalisasinya di tahun mendatang. Jérôme juga berbagi beberapa agenda masa depan dari sang manufaktur, “eLAB-ID yang merupakan kanvas putih bagi Panerai dalam mengeksplorasi berbagai inovasi akan kehadiran edisi ke-3 di tahun 2024. Kemudian edisi ke-4 dan ke-5 akan dirilis pada tahun 2026 dan 2028.” Pada saat kami menanyakan pendapat Panerai mengenai jam tangan bertenaga solar—mengingat manufaktur ini pun didirikan dengan begitu ramah lingkungan—Jérôme tersenyum seraya berkata, “Oh, itu pertanyaan yang sangat bagus. Namun pertanyaan sesungguhnya adalah bila kami memanfaatkan energi solar, apakah fungsinya? Karena kami tentunya jam kami tidak akan dilengkapi oleh baterai yang memerlukan pengisian daya. Mungkin saja kami akan menggunakannya untuk menampilkan sesuatu. Hmm, cukup sampai di sini saja. Saya tidak bisa membeberkan lebih lanjut (tertawa).”

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load