Skip to main content

ECHOES OF AN EPOCH: MENYINGKAP BABAK BARU DARI LOUIS VUITTON TAMBOUR

Ketika estetika minimalis jadi pilihan Louis Vuitton untuk menggaungkan babak baru Tambour di dunia horologi.

Ditulis oleh Erika Tania

Sesuai namanya, Tambour—berarti ‘drum’ dalam Bahasa Prancis—terlahir untuk menghadirkan dentuman di dunia horologi. Dengan siluet case cembung nan tebal yang menjadi ciri khasnya, Tambour menyajikan ruang leluasa bagi watchmaker untuk mengeksplorasi ragam komplikasi rumit dengan presentasi nan unik. Mulai dari chronograph ganda, worldtime dengan 24 zona waktu, tourbillon, jumping hour hingga minute repeater

Selaras dengan kreasi busana dan aksesori kulitnya, Louis Vuitton mengedepankan kreativitas dan keberanian dalam hal desain dan inovasi. Tak hanya merambah ke dunia smartwatch pada tahun 2017, Tambour turut menjadi sorotan lewat berbagai iterasi model automaton dengan dekorasi tiga dimensi—berupa kepala tengkorak, topeng khas Opera Sichuan, hingga wajah Einstein—yang bergerak lincah pasca tombol aktivasi ditekan. Maka tak heran bila sejumlah karya sang maison memperoleh penghargaan dari Grand Prix d’Horlogerie de Genève dan cap Poinçon de Genève nan prestisius.

Setelah lebih dari dua dekade membanggakan dentuman menggelegar lewat kreasi-kreasi Tambour yang mendorong batasan, Louis Vuitton kini memilih tantangan baru dengan pendekatan yang kontras. Alih-alih desain kaya elemen dengan fitur horologi yang kompleks, generasi baru Tambour mengadaptasi estetika yang begitu minimalis. Tanpa mengkompromikan kualitas performa dan keindahan penampilan, Louis Vuitton memperkenalkan jam tangan tiga jarum otomatis dengan bracelet terintegrasi pertamanya yang akan menggaungkan era baru dari Tambour.

BACK TO BASIC

Meski tampak sederhana, Tambour terbaru tak luput dari proses produksi kompleks yang melibatkan banyak pertimbangan. Lebih dari sekadar menyuguhkan estetika yang tak lekang oleh waktu, Louis Vuitton berfokus pada peningkatan ergonomi untuk memaksimalkan kenyamanan pemakai melalui perhatian mendalam hingga ke detail-detail terkecil. Seakan berkiblat pada prinsip ‘bentuk mengikuti fungsi’ yang dipopulerkan oleh arsitek Amerika Serikat, Louis Sullivan, setiap elemen pada Tambour terbaru mengemban misi dan fungsi tertentu.

Mari kita mulai dari bagian case. Dalam sekali pandang, Tambour terbaru tampak lebih ramping daripada para leluhurnya. Hal ini tercapai berkat case berdimensi anyar dengan diameter 40 mm dan ketebalan hanya 8,3 mm saja. Konstruksi caseback pun dibuat melengkung pada bagian tengah untuk mengakomodasi kontur pergelangan tangan. 

Kenyamanan pemakaian nan seamless kian dipertegas lewat: kehadiran bracelet yang terintegrasi dengan case secara langsung tanpa adanya lugs; permukaan cembung pada kedua sisi kepingan bracelet yang seolah memeluk pergelangan tangan lewat sentuhannya; serta gesper lipat yang tersembunyi di penghujung bracelet dan dapat ditemukan pada kepingan bertuliskan LOUIS VUITTON.

Untuk menyuguhkan sensasi taktil yang memuaskan, Tambour terbaru mengusung ragam tekstur dan finis pada sejumlah bagiannya. Kombinasi finis brushed dan poles mengilap pada setiap kepingan bracelet menghadirkan sentuhan lembut pada kulit. Sedangkan, crown berbentuk serupa drum dengan garis-garis flute di sekelilingnya memberikan kenikmatan sensori kala menyetel waktu. Tak ketinggalan, 12 huruf timbul bertuliskan LOUIS VUITTON di sekeliling bezel berfinis sandblasted menghadirkan efek tiga dimensi nan unik.

Walaupun tak bisa disentuh dan hanya bisa dilihat saja, bagian dial pada Tambour terbaru juga membanggakan efek tiga dimensi serupa. Pelat dial setipis 1 mm lebih dikonstruksikan dengan level ketinggian berbeda, sehingga menghasilkan kedalaman yang elegan. Bila lingkar luar dial yang tampak lebih tinggi menunjukkan menit, lingkar dalam dial menunjukkan jam. Di sisi lain, indeks per 5-menit hadir dalam rupa cekungan, sedangkan indeks jam diwakilkan oleh appliqué baton dan numeral Arab. 

Permainan dimensi tersebut bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam membaca waktu berkat pantulan cahaya yang variatif pada masing-masing elemen. Melengkapi bagian tengah dial yang menerapkan finis brushed ialah tulisan LOUIS VUITTON PARIS sebagai pengingat bahwa sang maison telah berdiri sejak 1854 di Paris dan FAB. EN SUISSE sebagai penghormatan kepada indikasi SWISS MADE versi dekade 1950-an dan 1960-an.

A NEW ERA

Generasi terbaru Tambour didukung oleh kinerja mengagumkan dari movement tiga-jarum otomatis pertama buatan Louis Vuitton, cal. LFT023. Sebagai hasil kolaborasi antara La Fabrique du Temps (pembuat jam tangan basis Jenewa yang diakuisisi oleh Louis Vuitton sejak tahun 2011) dan Le Cerle des Horlogers (spesialis movement), mesin ini mengusung kemahiran teknis dan keindahan desain yang istimewa.

Dengan rotor mikro bermaterialkan emas 22 karat berinersia tinggi yang digerakkan oleh sebuah peripheral gearing, cal. LFT023 membanggakan winding yang sangat efisien hingga menghasilkan cadangan daya hingga 50 jam pada frekuensi 4Hz (28.000 vibrasi per jam). Kualitasnya pun telah lulus uji dan memperoleh sertifikat chronometer dari Geneva Chronometric Observatory di bawah arahan TIMELAB Foundation. Memiliki akurasi -4 dan +6 detik per harinya, movement ini juga telah sesuai standar ISO 3159 nan ketat.

Dari segi dekorasi, berbagai ciri khas desain sang maison diimplementasikan secara apik pada komponen-komponen movement. Dua di antaranya ialah penutup barel dengan konstruksi openwork serupa Monogram Flower dan rotor mikro yang dihiasi oleh motif repetitif dari huruf LV. Sebuah referensi terhadap watchmaking tradisional hadir lewat pelat utama yang didekorasi dengan motif setengah lingkaran, namun disandingkan dengan permata tak berwarna sebagai sentuhan lebih modern dibandingkan rubi yang merupakan pilihan konvensional.

Generasi pertama dari Tambour terbaru terdiri dari dua model stainless steel dan edisi terbatas bermaterialkan emas. Untuk model stainless steel, terdapat dua pilihan dial klasik dalam warna biru (W1ST20)  maupun abu-abu (W1ST10). Meski mengusung case dan bracelet bermaterialkan stainless steel, semua penanda pada dial terbuat dari emas putih yang kemudian dilindungi oleh kaca safir anti-reflektif. Kedua model ini menjadi opsi jam keseharian nan andal berkat dimensi dan bobotnya yang cukup ringan dibandingkan iterasi Tambour terdahulu—kunjungi profil Instagram Louis Vuitton Watch Director, Jean Arnault, untuk melihat perbandingan Tambour lama dan baru yang akan membuat Anda mengangguk setuju dengan evolusi ini.

Edisi terbatas hadir sebagai opsi lebih elegan dengan material emas merah muda 18 karat pada bagian case, bracelet, dan indeks yang terdapat di dial. Kian hangat, pelat dial mengusung warna cokelat gelap yang begitu memikat. Baik model stainless steel maupun emas merah muda 18 karat, keseluruhan generasi Tambour terbaru membanggakan craftsmanship harmonis yang membuktikan keserbagunaan formula desain anyarnya.

Perpaduan berbagai elemen yang mengutamakan simplisitas dan fungsionalitas menjadi penawaran segar dari Louis Vuitton dalam memulai era baru bagi koleksi Tambour. Dengan garis desain kontemporer yang kental, Tambour terbaru berkomunikasi secara universal kepada penggemar horologi lintas persuasi. Kontras dengan ragam iterasi eksesif yang senantiasa menggelegar pada tiap perilisannya, Tambour terbaru mengekspresikan sensibilitas Paris dan kualitas tinggi khas Swiss dalam rupa paling murni dengan gaung yang akan memiliki gema kekal di dunia horologi. 

 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh