Skip to main content

FRESH CONCEPTION: CEO Norqain Ben Küffer berbagi kisah tentang nilai-nilai yang diemban oleh Norqain

CEO Norqain Ben Küffer menuturkan kisah menyeluruh tentang konsepsi Norqain dan kuatnya nilai-nilai yang diemban oleh sang brand.

Arinta Wirasto

Ialah Ben Küffer, sosok di balik beragam pencapaian yang diraih Norqain dalam waktu pesat dan berhasil membuat audiens luas terpukau. Keberhasilan Norqain tak lepas dari prinsip yang dijunjung tinggi olehnya, serta ambisi untuk memodernisasi dunia horologi. Selain mendirikan Norqain ketika berusia 29 tahun—relatif muda di dunia horologi Swiss—Ben turut bermisi untuk mempekerjakan tim dengan rerata usia 35 tahun sebagai bagian dari komitmennya. Bagaimanapun, mimpi Ben adalah melingkarkan jam mekanis buatan Swiss di pergelangan tangan indvidu berjiwa muda dalam harga terjangkau.

Akan tetapi, melampaui komersialitas semata, substansi Norqain terletak pada nilai kekeluargaan nan kental. Sebagai perusahaan keluarga, langkah Ben didukung oleh keterlibatan sang ayah Marc Küffer sebagai Chairman of The Board, sang saudari Caroline Küffer selaku Direktur Pemasaran, dan saudara lelakinya Tobias Küffer yang menjabat sebagai Direktur Penjualan. Selain itu, Ben turut berkiblat pada inklusivitas dan strategi taktis yang meliputi wawasan cemerlang dari sejumlah nama tersohor di balik Norqain. Mulai dari Ted Schneider (mantan CEO dan pemegang saham Breitling), Mark Streit (atlet hoki es asal Swiss), dan tentunya sang legenda Jean-Claude Biver.  Kepada CROWN, Ben berbagi cerita tentang menjalani hidup sesuai intuisi dan aspirasi untuk terus berinovasi dalam penawaran Norqain. 

Adakah cerita spesial atau tantangan terbesar di balik pembentukan Norqain?

Saya ingin berkontribusi dan memberi pengaruh berarti untuk industri horologi Swiss, khususnya dalam ranah jam tangan mekanis dan mendirikan sebuah brand baru adalah jawabannya. Tantangan pertama adalah mengukuhkan identitas Norqain. Seluruh pihak terlibat menginginkan saya untuk membuat jam tangan bermutu dengan kisaran harga mahal. Sebagai brand independen dengan tim produksi yang umumnya berskala kecil, hal ini memang mudah untuk dilakukan. Namun hal tersebut bukanlah apa yang saya inginkan, melainkan menjadi inklusif dan aksesibel. Mimpi saya adalah berjalan di lorong sebuah pesawat dan melihat jam tangan Norqain di pergelangan tangan seseorang. Untuk mencapai hal tersebut, sebuah brand harus memiliki kuantitas produksi tinggi dan kisaran harga tak lebih dari CHF10.000 (sekitar Rp163 juta-an).  Lantas, meyakinkan para peritel yang merasa khawatir tentang hal ini pun menjadi tantangan berikutnya. Meski begitu, akhirnya mereka percaya bahwa Norqain mampu memproduksi kreasi berkualitas sebagai brand muda nan modern. 

Jean-Claude Biver bergabung dengan sebagai penasehat dewan Norqain. Sejauh apa keterlibatan sang legenda dalam membentuk strategi Norqain? 

Jean-Claude selalu menantang kami untuk berinovasi. Ia pun ingin memberi dampak berarti bagi generasi muda dalam ranah jam tangan mekanis. Sejak mulai berkarier—bahkan berjasa menyelamatkan banyak brand ketika Quartz Crisis melanda—ia belum pernah benar-benar terlibat dalam strategi digital sepenuhnya. Ia percaya dengan mengembangkan relasi secara konvensional dan berinteraksi secara langsung dengan pelanggan ketimbang memanfaatkan iklan media sosial semata. Strategi ini membantu meningkatkan kesadaran terhadap Norqain, dan kami bersinergi baik untuk membangun simbiosis mutualisme. Jika memiliki ide atau konsep pemasaran tertentu, saya akan menanyakan pendapatnya secara spontan. Saya bersyukur dapat bekerja sama dengan seorang visioner seperti Jean-Claude. Sumbangsih ‘strategi’ paling kentara dapat Anda temukan pada Wild One, salah satu koleksi yang kami jagokan dan mengilustrasikan pengetahuan mumpuni tentang material dan proses produksi Jean Claude. 

Adakah anggapan tertentu tentang Norqain yang ingin Anda sanggah? 

Kebanyakan orang belum sepenuhnya paham bahwa Norqain adalah perusahaan keluarga dengan rencana jangka panjang yang konkret. Norqain bukan dibuat untuk objek komersil semata, maupun memuaskan permintaan pasar. Kecintaan terhadap jam tangan mekanis lah yang melandasi pembuatan Norqain dan membuat apa yang kami lakukan terasa menyenangkan. Sering kali orang bertanya tentang siapa kami sesungguhnya. Mungkin ini saatnya mengubah pertanyaan tersebut menjadi “apa yang ingin kami lakukan?” Ke depannya, saya ingin audiens luas mengetahui cerita Norqain, serta visi dan nilai-nilai yang kami junjung sebagai perusahaan keluarga. 

Terdapat beberapa nilai yang terasosiasi dengan Norqain: petualang, etis, komunitas, dan filantropi. Dari perspektif Anda, manakah di antara empat adjektif tersebut yang paling menggambarkan DNA Norqain?

Saya tidak bisa memilih karena seluruhnya adalah pilar yang membentuk Norqain. Prinsip saya jika Norqain meraup sukses adalah untuk berbagi kepada sesama. Sebagaimana jika kami tidak berhasil meraih target dalam waktu tertentu, kami tidak akan berkecil hati karena telah memberi segalanya. Empat pilar tersebut termanifestasi secara beragam. Salah satunya adalah sertifikasi Swiss Climate Neutral yang kami raih—hanya segelintir brand yang memilikinya—dan dianugerahi untuk entitas dengan upaya mengurangi jejak karbon. Selanjutnya adalah kemitraan dengan organisasi non-profit Butterfly Help Project, berfokus meningkatkan taraf pendidikan anak-anak dari mendiang para Sherpa yang berpulang ketika mendaki Pegunungan Himalaya. Seluruh penjualan dari koleksi Neverest kami donasikan untuk mereka. Sebagai brand yang terbentuk di era tingginya kesadaran terhadap etis dan keberlanjutan, bergerak ke arah sana merupakan pilihan bijak. 

Seperti apa pendekatan Norqain terhadap keberlanjutan dan bagaimana umpan baliknya?

Saya percaya bahwa hidup adalah pilihan, dan memilih ‘rute’ keberlanjutan adalah norma yang sangat penting dewasa ini. Saat berkolaborasi dengan Dean Schneider pada tahun 2021, kami mengumumkan bahwa Norqain telah beralih dari penggunaan kulit binatang dan memastikan tidak ada kekejaman terhadap hewan dalam proses produksi. Kami membudidayakan sejumlah material alternatif bagi produk kami. Alhasil, begitu banyak respon—positif maupun negatif—yang kami raup. Salah satunya adalah bahwa kami sukses melakukan pemasaran yang taktis. Hanya saja, ini bukanlah sekadar ajang pemasaran, ini adalah bentuk komitmen kami sesungguhnya. 

Dean Schneider merupakan salah satu Norqainer. Bisakah Anda berbagi sedikit tentang komunitas ini dan apa saja kualitas Anda cari dari seorang Norqainer?

Norqainer adalah manifestasi sesungguhnya dari “Menjalani hidup sesuai intuisi” Mereka adalah individu berkarakter otentik yang bertindak sesuai prinsip. Ketika bertemu untuk pertama kalinya, saya melihat Dean dengan penuh takjub. Bagaimana tidak? Ia berani meninggalkan puncak karir di industri finansial Swiss dan mendirikan konservasi satwa liar di Afrika Selatan. Seseorang dengan perjalanan hidup inspiratif dan keberanian terhadap tantangan seperti Dean lalu menjadi pedoman kami dalam memilih para Norqainer lainnya. 

Seluruh penawaran Norqain ditenagai oleh movement yang diproduksi oleh Kenissi. Adakah cerita di balik kolaborasi dengan sang manufaktur movement tersohor?

Awalnya kami mengirim surat kepada sejumlah perusahaan movement tersohor. Tetapi kami selalu bermimpi untuk bekerja sama dengan Kenissi. Sebagai perusahaan yang baru lahir, tentunya kami tidak berharap banyak. Dalam surat tersebut, saya menuturkan biografi singkat dan fakta bahwa kami belum menjual satu produk pun di pasaran. Namun saya juga menyampaikan bahwa kami memiliki visi kuat untuk Norqain sebagai muda-mudi di industri horologi Swiss. Kemudian kami diundang dalam pertemuan tatap muka di Jenewa oleh Kenissi untuk mempresentasikan mimpi-mimpi Norqain. Tak disangka, Kenissi menyatakan ketertarikannya terhadap Norqain dan siap mendukung kami 100 persen. Norqain dan Kenissi memiliki koneksi emosional yang kuat karena kami adalah perusahaan muda dengan ambisi besar. 

Jika harus memilih, apa kreasi Norqain favorit Anda?

Terdapat dua jam sarat makna bagi saya saat ini. Pertama adalah Freedom Chrono, jam tangan perdana Norqain dengan cerita cerita istimewa. Selain menjadi model pertama berukirkan logo Norqain, saya mengenakan versi prototipe—tanpa movement—ke pernikahan saya sendiri. Ketika itu, saya berujar kepada istri “untung saya tidak terlambat datang karena tidak mengenakan jam tangan!” Dengan kisah seperti itu, tak ayal bila jam ini menjadi objek yang begitu berkesan. Jam kedua adalah Wild One yang kami konsepsikan bersama Jean-Claude Biver dan memakan masa produksi selama dua tahun lamanya. Selain meraih tanggapan positif, jam ini sukses terjual habis tak lama setelah diluncurkan. 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load