Skip to main content

THE GREATEST LAUREATES: Menyoroti sejumlah pemain independen yang menjadi jagoan dalam penghargaan GPHG 2023

Grand Prix’s Greatest Laureates

Mulai dari Simon Brette hingga Sven Andersen dan Vincent Calabrese, penghargaan Grand Prix tahun ini dipersembahkan kepada mereka yang sudah sepatutnya menjadi juara

Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG) umumnya tidak pernah menjadi kontroversi. Namun, ajang tersebut beberapa kali mengejutkan dunia horologi dengan daftar pemenang yang diumumkan. Panel juri GPHG—terdiri dari segenap individu lintas disiplin dan region—adalah penentu daftar nominasi, juga juara yang menjadi standar horologi di masa kini dan selanjutnya. Pemenang-pemenang tahun ini juga menyingkap terjadinya pergolakan neoklasik dalam dunia pembuatan jam tangan. Berikut daftar para peraih penghargaan di tahun 2023 yang diumumkan pada tanggal 9 November lalu.

Aiguille d’Or – Audemars Piguet

Penghargaan tertinggi dalam ajang GPHG, The Golden Needle, diraih oleh Code 11.59 by Audemars Piguet Ultra-Complication Universelle RD#4. Iterasi menakjubkan ini mengingatkan kami pada awal era '00-an, di mana segenap rumah horologi berkompetisi untuk membuat iterasi mega-komplikasi. In-house movement Calibre 1000 di balik jam bergaya half-hunter tersebut berjasa mengoperasikan 40 komplikasi sekaligus. Di antaranya adalah Grand Sonnerie Supersonnerie, minute repeater, kalender abadi, flyback chronograph, dan flying tourbillon. Meski begitu, desain dial sederhana yang diusungnya menyembunyikan kompleksitas dari sang jam dengan sempurna selagi menyajikan impresi nostalgia nan kental. Terbukti, jam ini adalah kreasi yang berhasil membuat para juri tercengang.

Ladies’ Complication – Dior Montres

Grand Soir Automate Etoile de Monsieur Dior dari rumah fashion ikonis bernama serupa adalah interpretasi modern jam tangan wanita masa kini. Sekilas, jam ini terlihat seperti kreasi Van Cleef & Arpels, Lovers on a Bridge, dengan movement automaton yang didesain oleh ahli komplikasi Jean-Marc Wiederrecht. Dikreasikan sebagai sanjungan terhadap House of Dior di kala malam, dial jam ini mengusung konfigurasi batu permata, mother-of-pearl, ukiran tangan, sekaligus dua bintang jatuh berfitur automaton yang diaktifkan lewat tombol pada crown. Fungsi sang jam sebagai penunjuk waktu nyaris tidak terlihat, serta merta meningkatkan pesonanya. Selain itu, aplikasi berbagai teknik pada dial adalah manifestasi sempurna dari level keterampilan dalam dunia adibusana dan horologi.

Iconic Watch – Ulysse Nardin

Terdapat banyak kreasi ikonis yang menjadi nominasi tahun ini, namun iterasi terbaru Freak One dari Ulysse Nardin lah yang berhasil unggul dalam kategori tersebut. Bagaimanapun, koleksi Freak berhasil menggawangi dobrakan abad ini lewat inovasi material, fitur mutakhir, dan perpesktif mengenai masa depan jam tangan mekanis. Sejak pertama diluncurkan, Freak telah mengundang decak kagum dalam dunia horologi, khususnya bagi para pencinta teknologi dalam ranah pembuatan jam tangan kelas atas. Setelah bereksperimen dengan kreativitas selama lebih dari 20 tahun, kini jerih payah sang brand terbayarkan lewat penghargaan Jam Tangan Ikonis Terbaik.


Tourbillon Watch – Laurent Ferrier

Grand Sport Tourbillon Pursuit dari Laurent Ferrier hadir dengan case titanium yang menaungi dial salmon bernuansa redup, serta temali terintegrasi. Terselubung di dalam sang jam adalah tourbillon movement yang tak kalah memesona dan tersingkap dari caseback berkonsep transparan. Jika harus memilih satu kreasi klasik dengan desain kontemporer tahun ini, sang jam benar-benar berhasil melambangkan lanskap horologi kelas atas dewasa ini: bersahaja, mutakhir, dan rileks. 


Chronograph Watch – Petermann Bédat

Awalnya kami menjagokan Singer Reimagined 1969 Chronograph untuk kategori Jam Tangan Chronograph Terbaik. Tetapi jam bernomor referensi 2491—atau dikenal sebagai Chronograph Rattrapante—dari Petermann Bédat lah yang berhasil menyabet penghargaan tersebut. Tak hanya komplikasi chronograph, jam ini turut membanggakan kepiawaian teknis dalam hal movement, case, dan dial. Sorotan utama terletak pada movement yang dikreasikan menyerupai estetika jam saku dan tersingkap sedikit pada dial berstruktur terbuka. Selanjutnya, kehadiran lingkar penghitung menit dengan mekanisme lompatan instan turut menggaungkan elemen masa lalu tanpa terjebak di dalamnya. 


Sports Watch – Tudor

Tahun ini, Tudor Pelagos 39 menjadi kreasi pilihan untuk berkompetisi dengan lima nominasi mengagumkan lainnya. Iterasi ini adalah simbol dari tool watch modern masa kini, dicirikan oleh profil ramping nan tangguh, keterbacaan tinggi pada dial, bezel yang dapat diputar ke satu arah, dan movement penuh presisi. Meskipun terinspirasi dari jam tangan militer lawas, iterasi ini didesain sebagai model uniseks yang cocok bagi pria maupun wanita. Kami rasa, tim desain Tudor benar-benar mengetahui formula untuk mengambil hati para pencinta horologi lintas segmentasi. Mulai dari kolektor baru hingga penggemar olahraga selam. Apalagi, Tudor hadir dengan kisaran harga lebih terjangkau jika dibandingkan oleh sang ‘saudara’, Rolex. Dengan segala proposisi nilai di atas, kami bisa memahami kenapa Tudor meraih begitu banyak nominasi dan penghargaan.


Artistic Crafts – Piaget

Di satu sisi, Jumping Hours Rising Sun Edition dari Andersen Genève mampu menghipnotis kami dengan corak guilloché yang menjadi panggung utama, memadukan corak losanges magiques sekaligus clous de paris pada cakram tourbillon. Namun, kombinasi dari marquetry kayu, corak berupa sedotan, serta kulit pada dial menjadikan Piaget Altiplano Métiers d’Art Undulata pemenang yang pantas dalam kategori Jam Tangan Artistik Terbaik. Perkawinan material dan spektrum memberi kedalaman dimensi lebih bagi sang jam. Pada pandangan pertama, jam ini mengingatkan kami terhadap samudra yang senantiasa berganti warna di bawah cahaya sesuai pergerakan matahari.


Petite Aiguille – Christopher Ward

Pada debutnya, koleksi Bel Canto membuat gempar dunia horologi. Faktanya sejumlah editor dan kritikus berusaha sebisa mungkin untuk mencoba sang jam saat itu. Wajar saja, jam berdentang ini hadir dengan separuh harga dibandingkan kreasi berkomplikasi serupa dari rumah horologi lainnya. Dengan eksekusi luar biasa, bukanlah sebuah kejutan bila penghargaan prestisius Petite Aiguille dianugerahi kepada Christopher Ward. Kemenangan ini turut mengilustrasikan upaya sang brand untuk keluar dari kategori microbrand dan beralih menjadi pemain ‘serius’. Desain jam mengingatkan kami akan rilisan sejumlah brand lainnya dengan konfigurasi dial separuh transparan yang menyingkap pergerakan komponen gong dan palu seiring pergantian jam. Mungkin hal paling penting untuk disoroti adalah fakta bahwa sang pendatang baru asal Inggris berhasil menjadi juara di tengah para pemain horologi termashyur. 


Challenge Watch – Raymond Weil 

Sejak Elie Berhnheim didaulat menjadi CEO Raymond Weil setelah sang saudara laki-laki, Pierre, mengundurkan diri untuk berfokus pada bisnis restoran dan mengepalai dewan Bandar Udara Jenewa, sang brand telah berganti haluan secara drastis. Perubahan paling kentara dalam hal desain adalah estetika khas Jenewa yang begitu bersahaja. Koleksi Millésime adalah cerminan perspektif Elie terhadap lanskap pembuatan jam tangan. Selagi mempertahankan asosiasinya dengan disiplin musik dan seni, Millésime Automatic Small Seconds menjadi sebuah tribut terhadap dial bergaya sektor dan scientific dial. Iterasi ini merupakan perkawinan antara impresi lawas dan modern yang cocok untuk kegiatan sehari-hari.

Innovation Prize – Hautlence 

Bagi kami, Sphere selalu menjadi pencapaian mekanis sarat kejenakaan dari Hautlence. Apalagi dengan kompleksitas yang diusung penunjuk waktu cembung tiga dimensi menyerupai Magic 8-Ball di posisi angka 9. Seperti Ulysse Nardin Freak, jam ini sudah sepantasnya disebut ikon yang mendefinisikan era pembuatan jam tangan masa kini. Tak ayal, panel juri GPHG memilih sang jam untuk menjadi pemenang dalam kategori Jam Tangan Inovasi Terbaik. Pada iterasi ini, Hautlence turut memperbarui case berwujud layar televisi khas koleksi tersebut, juga meningkatkan kinerja movement. Ini adalah sebuah inovasi sejati dalam dunia horologi. 


Chronometry Prize – Ferdinand Berthoud

Penghargaan demi penghargaan terus diraih oleh brand yang didirikan oleh Karl-Friedrich Scheufele, Ferdinand Berthoud. Kali ini lewat iterasi bertajuk Chronomètre FB 3SPC yang perdana diperkenalkan pada akhir tahun lalu. Saat itu, kami merasa bahwa jam ini adalah interpretasi sempurna dari kronometer laut pada sebuah jam tangan berkat hairspring silinder—hanya terdapat pada segelintir iterasi dalam dunia horologi—yang diusungnya. Garis-garis lugas yang membentuk desain movement menjadi ilustrasi sempurna dari arsitektur kontemporer. Bagian regulator sendiri memakan waktu pengembanan bertahun-tahun untuk mencapai standar presisi sedemikian rupa.


Horological Revelation – Simon Brette

Tahun ini Simon Brette berhasil memboyong penghargaan Horological Revelation—dapat diartikan sebagai nama yang tengah naik daun—dalam ajang GPHG. Pria berusia 35 tahun asal Prancis ini mendirikan brand eponim tersebut dua tahun lalu. Chronomètre Artisans pun sontak menjadi sorotan pada ajang Watches & Wonders bulan Maret silam. Seluruh bagian jam dikonstruksikan menggunakan tangan. Mulai dari dial emas kemerahan bertekstur yang dijuluki ‘sisik naga’ hingga sekrup hitam berfinis poles. Lebih mengagumkan, kesuksesan Simon diraih dengan strategi subscription (berlangganan) yang lazim digunakan pada abad ke-19. 


Special Jury Prize – Svend Andersen dan Vincent Calabrese

Di balik kesuksesannya, lanskap horologi independen patut berterima kasih kepada Svend Andersen dan Vincent Calabrese. Keduanya adalah pendiri dari Académie Horlogère des Créateurs Indépendants (AHCI), organisasi yang berjasa mengantarkan para pemain independen pada kesuksesan. Tanpa mereka, nama-nama seperti Vianney Halter, Philippe Dufour, Felix Baumgartner, bahkan Franck Muller mungkin tidak akan mendapat peluang untuk bersuara dalam dunia horolgi. Terutama pada saat sejumlah konglomerat mengambil alih dunia pembuatan jam tangan pasca krisis Quartz. AHCI pun terus-menerus mendorong para pendatang baru untuk membuat brand baru. Baik sendiri, maupun dengan dukungan artisan-artisan yang bernaung dalam organisasi tersebut. Berkat Svend Andersen dan Vincent Calabrese, kita tengah mengalami masa keemasan pembuatan jam tangan di masa kini. 

 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load