Skip to main content

KELAHIRAN KEMBALI DARI LONGINES ULTRA-CHRON

Longines Ultra-Chron terbaru menyoroti peran historis sang brand dalam pengembangan movement berfrekuensi tinggi sejak lebih dari 100 tahun yang lalu.

Erika Tania

Menilik balik perjalanan Longines dalam pengembangan movement berfrekuensi tinggi tentunya tak terlepas dari keterlibatan sang brand sebagai pencatat waktu di berbagai kompetisi olahraga prestisius. Mulai dari pacuan kuda, balap sepeda, ski, rally, hingga balap mobil Formula 1. Popularitas stopwatch Longines di kalangan para penunggang kuda pada era 1880-an mengantarkan sang brand sebagai pencatat waktu pada ribuan kompetisi olahraga berkuda selama bertahun-tahun. Untuk memaksimalkan perannya, Longines mengkreasikan stopwatch dengan jarum split-second dan movement berfrekuensi tinggi yang akurat hingga sepersepuluh atau seperseratus detik. Dengan instrumen yang sama, Longines juga mendukung ragam kompetisi balap sepeda bergengsi, seperti Tour de France, Giro d’Italia, dan Vuelta di Spanyol. Selain itu, Longines juga dipercayai untuk terlibat dalam berbagai kompetisi olahraga ski prestisius, seperti International Week of Winter Sports (1924), World Ski Championship (1939), Military Ski Championship (1945) di mana sang brand menggunakan fotosel penghalang cahaya buatannya di garis akhir, dan kini Longines merupakan Official Partner dan Official Timekeeper bagi FIS Alpine Ski World Cup dan FIS AlpineWorld Ski Championship. Karya spesifik lain yang dikreasikan Longines untuk kompetisi olahraga adalah Printogines yang memungkinkan para peserta balap mobil merekam waktu ketibaan mereka di setiap checkpoint dalam kompetisi olahraga otomotif rally. Tak hanya menjadi pencatat waktu Rallye Monte-Carlo selama 30 tahun, Longines juga terlibat dalam kompetisi Coupe des Alpes, TAP Rally di Portugal, Thousand Lakes di Finlandia, hingga Rallye de Côte d’lvoire di Afrika. Pada tahun 1949, Longines memperkenalkan sebuah sistem penghitung waktu yang dapat mencatat hingga sepersepuluh detik melalui serangkaian foto. Setahun kemudian, Longines digaet oleh ragam ajang balap mobil seperti Grand Prix de Monaco, Indianapolis 500, hingga balapan Formula 1 dari tahun 1982-1992. Berkat konsistensi Longines dalam menyuguhkan alat penunjuk waktu inovatif dan memiliki akurasi yang baik, maka tak heran bila brand berlogo jam pasir bersayap ini memperoleh kepercayaan para profesional dari lintas bidang olahraga di berbagai belahan dunia hingga kini.

Lebih dari seratus tahun kiprah Longines dalam ranah movement berfrekuensi tinggi, berikut ini delapan karya pilihan untuk mengilustrasikan evolusi sang brand dalam menyuguhkan instrumen waktu yang kian presisi.

1914: Ditenagai oleh calibre 19.73N dengan balance wheel yang berosilasi 36.000 ketukan per jam, stopwatch yang dilengkapi oleh jarum split-second (penyempurnaan pada rilisan 1922) ini mendulang popularitas di dunia olahraga, militer, dan kesehatan. 

1916: Longines mampu mencatat waktu hingga seperseratus detik berkat modifikasi terhadap calibre 19.73N agar balance wheel dapat berosilasi lebih cepat, yaitu 360.000 ketukan per jam. Chronograph ini juga memiliki lingkar penghitung menit di posisi angka 12. 

1938: Chronograph yang dikonstruksikan dengan chronometer navigasi sebagai basisnya ini dilengkapi oleh jarum yang berotasi mengelilingi dial dalam waktu 30 detik, sehingga memudahkan pengguna untuk membaca fraksi-fraksi dalam satu detik. 

1957: Chronograph ini mengedepankan fungsi flyback dan sistem menyetop kinerja balance yang membantu pengguna restart tanpa reset. Pembaruan pada tahun 1966 bagi chronograph ini dilengkapi oleh jarum spesial yang menunjuk pada skala nonius.

1959: Longines mempresentasikan jam tangan berfrekuensi pertamanya yang didukung kinerja calibre 360 dengan 36.000 ketukan per jam. Karya ini meraih posisi pertama dan kedua di kompetisi akurasi oleh Observatory of Neuchâtel pada tahun 1961. 

1966: Berkat calibre 431 yang diberi pelumas kering berpaten karya Longines, sang brand berhasil menyuguhkan jam tangan yang lebih akurat daripada chronometer bersertifikat COSC. Oleh karenanya jam tersebut diberi nama Ultra-Chron.

1968: Longines merilis jam tangan selam berfrekuensi tinggi pertama di dunia melalui perilisan Ultra-Chron Diver yang ditenagai oleh calibre 431. Bergaya sporty, jam ini mengusung case berbentuk tonneau dengan jarum menit berwarna merah yang menjadi ciri khasnya. 

2022: Dengan estetika yang terinspirasi oleh Ultra-Chron Diver rilisan 1968, Longines merilis interpretasi modern bernama Ultra-Chron yang hadir dalam pilihan bracelet baja atau temali kulit yang keduanya dilengkapi oleh temali NATO tambahan bermaterial daur ulang.

A New Milestone

Meski mengadaptasi elemen-elemen desain yang begitu familiar dari Ultra-Chron Diver rilisan tahun 1968, Ultra-Chron terbaru hadir dengan berbagai pembaruan cermat yang membuatnya semakin memikat. Perbedaan paling mencolok adalah jendela tanggal yang dieliminasi untuk tampilan lebih minimalis. Selain itu, bentuk tonneau case dari versi orisinalnya digantikan oleh cushion case dengan konstruksi yang lebih ‘memeluk’ pergelangan tangan, serta turut dilengkapi oleh caseback dan crown yang terkunci rapat sehingga tahan air hingga kedalaman 300 meter. Dinamisme ditunjukkan Longines lewat dial hitam bertekstur dan indeks jam multisegi, serta kehadiran aksen merah pada jarum maupun skala graduasi pada bezel. Berbicara mengenai bezel, menariknya, Longines memilih sisipan kristal safir sebagai material utama—pertama kali bagi sang brand—yang seketika menyuguhkan kesan modis. Untuk memaksimalkan keterbacaan, jarum pada dial serta indeks angka dan segitiga pada bezel dibubuhi Super-LumiNova®.

Namun tentu saja sorotan utama dari Ultra-Chron terbaru terletak pada movement berfrekuensi tinggi yang menenagainya. Sebagai hasil dari kolaborasi Longines dengan ETA, sebuah in-house movement eksklusif yang berdetak 10 ketukan per detik menjadi jantung bagi Ultra-Chron terbaru. Bernama calibre L836.6, kinerja movement ini didukung oleh balance spring bermaterial silikon serta escape wheel dan anchor yang antimagnetis. Konstruksi elemen-elemen di dalam movement ini juga disesuaikan agar lebih stabil sembari menunjukkan waktu secara akurat. Dapat dipastikan bahwa Ultra-Chron rilisan tahun ini tidak akan menjadi jam tangan berfrekuensi tinggi modern terakhir dari Longines, sebagaimana sang brand menunjukkan keseriusannya dengan menggaet TIMELAB—laboratorium uji independen basis Jenewa—untuk melakukan serangkaian pengujian selama 15 hari di mana movement dalam case dihadapkan pada tiga temperatur berbeda. Kreasi yang lulus uji dan memenuhi kriteria presisi yang ketat —standar ISO 3159:2009—mengemban status “Ultra Chronometer” sebagaimana terlihat pada caseback jam tangan Ultra-Chron terbaru. Dikemas dalam boks presentasi spesial, jam tangan ini hadir dalam dua pilihan temali: bracelet baja atau temali kulit, dengan tambahan temali NATO hitammerah bermaterial daur ulang yang sudah termasuk di setiap pembelian. Melalui Longines Ultra-Chron terbaru, brand basis Swiss ini berhasil merangkum segudang pengalaman dan prestasinya dalam ranah movement berfrekuensi tinggi dengan menggabungkan tradisi, elegansi, dan performa yang mumpuni.

Klik di sini untuk #BacaDiRumahAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh