Skip to main content

LEGACY OF ELEGANCE: CEO Longines, Matthias Breschan, menuturkan persepsinya mengenai tradisi historis sang brand dan merangkul kesempatan di masa depan

Menjembatani tradisi historis dan kesempatan di masa depan bersama CEO Longines, Matthias Breschan.

Ditulis oleh Arinta Wirasto

Sejatinya, dunia horologi memang tak bisa dipisahkan dari dua kata: tradisi dan inovasi. Jika para pemerhati saja sudah familier dengan hal ini, bagaimana dengan sosok-sosok yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam industri pembuatan jam tangan? Salah satunya adalah Matthias Breschan, CEO Longines yang bergabung dengan sang brand pada tahun 2020. Evolusi karier Matthias di dunia horologi bermula dari tahun 1996, ketika ia bergabung dengan Swatch Group di departemen telekomunikasi sebelum terlibat sebagai Group Management Board di tahun 2005, mengelola Hamilton untuk tujuh tahun, dan mengepalai Rado hingga tahun 2020. 

Beberapa saat kemudian, ia bergabung dengan Longines dan mengemban peran sebagai CEO. Tentu saja peran ini bukanlah hal mudah di era pandemi yang tak terduga dan mendesak sejumlah institusi untuk menghadapi ketidakpastian. Dengan segenap bekal pengetahuan dan pengalaman mumpuninya di bidang strategi penjualan, distribusi, dan pemasaran, Longines berhasil mencapai penjualan signifikan di kala brand lainnya terpaksa harus mengurangi titik penjualan atau berada dalam situasi stagnan. Seluruh strategi dilakukannya dengan pemikiran matang, tanpa tergesa-gesa, dan secara elegan, sebagaimana prinsip yang diemban oleh Longines. Kepada CROWN, Matthias menuturkan perspektifnya tentang strategi-strategi yang telah ia siapkan untuk merangkul kesempatan di masa depan, sekaligus menyoroti kekayaan tradisi di masa lalu.

Dengan riwayat yang begitu kaya, bagaimana rencana Anda dalam manajemen arsip ekstensif Longines?

Kami telah memulai proses digitalisasi untuk seluruh koleksi Longines Museum karena arsip Longines yang begitu kaya menjadikan museum ini terlalu kecil untuk menampungnya. Saat ini Longines Museum berada di dalam fasilitas yang sama dengan kantor pusat dan manufaktur kami di Saint-Imier. Situasi ini mengharuskan kami untuk menemani setiap pengunjung karena jika dibiarkan sendiri, terdapat banyak hal konfidensial yang terlalu rentan untuk diakses. Kami juga tidak bisa membuka museum di akhir pekan. Lantas, kami berencana memindahkan museum ini ke area farm house milik Longines. Nantinya, kami akan menambahkan butik kecil dan gerai pelayanan pelanggan. Para tamu pun dapat mengunjungi museum tanpa membuat perjanjian terlebih dahulu. Kini Longines Museum mendapatkan 5.000 pengunjung per tahunnya, tetapi kami berharap untuk meningkatkan volume pengunjung hingga 50.000 per tahun setelah pindah ke lokasi baru. 

Beralih ke masa kini, Longines mendapuk sejumlah ambasador brand, seperti Kate Winslet, Rege-Jean Page, Suzy Bae, dan Jennifer Lawrence. Faktor apa sajakah yang Anda pertimbangkan di balik pemilihan ambasador? 

Tingkat popularitas adalah salah satu faktor penting dalam pemilihan ambasador, sehingga kami tidak perlu memperkenalkan mereka lagi kepada publik. Tetapi yang terpenting adalah bahwa mereka berbagi nilai-nilai yang sama dengan Longines. Ketika memperkenalkan Jennifer Lawrence sebagai ambasador kami beberapa bulan lalu di New York, publik menanggapinya dengan positif. Mereka berpendapat bahwa Jennifer Lawrence adalah pribadi yang otentik dan relatable, serta representasi sempurna dari prinsip ‘Elegance is an attitude’ milik Longines. Lalu kami harus benar-benar yakin bahwa sosok yang dipilih siap berkomitmen tinggi dalam kemitraan bersama Longines. Pasalnya, kami tidak akan mengganti persona setiap dua bulan atau beberapa tahun sekali. Bahkan, Kate Winslet telah menjadi ambasador Longines selama lebih dari 10 tahun. Kami juga memiliki hubungan yang blak-blakan dengan para ambasador. Lebih dari sekadar superstar pada papan iklan, kami ingin mendekatkan mereka dengan para pelanggan Longines.

Lantas, apa saja pasar utama yang mewakili domisili terbanyak dari pelanggan Longines saat ini?

Tiongkok masih menjadi pasar terbesar Longines berkat populasinya yang masif. Pasar terbesar kedua adalah Amerika Serikat. Namun dalam satu tahun terakhir, perkembangan tertinggi justru terjadi di region Eropa dan Asia Tenggara. Sesungguhnya, terdapat satu kesalahan yang kami lakukan selama bertahun-tahun, yaitu terlalu berfokus untuk memikat turis. Di masa pandemi, kami sadar bahwa strategi ini perlu diubah. Sejak fokus menyediakan produk yang sesuai dengan minat pelanggan domestik dan menjadikan mereka prioritas pertama, perkembangan pesat di dua region tersebut pun terjadi. Maka tak heran bahwa kami mengalami pertumbuhan dua digit di hampir seluruh region selama pandemi. Oleh karena itu, kami optimis dapat mencapai penjualan senilai ₣ 2 milyar di tahun 2025 mendatang.

Apa sajakah strategi yang Longines terapkan untuk mencapai target penjualan tersebut?

Dari segi produk, kami berencana menyoroti riwayat dan tradisi Longines lebih jauh lagi. Khususnya dalam kategori heritage, klasik, dan jam tangan olahraga yang akan meraih popularitas lagi di tahun-tahun mendatang, terutama chronograph bermodel klasik. Dalam hal distribusi, Anda akan menemukan lebih banyak butik monobrand Longines dalam skala global. Karena kami membutuhkan tempat untuk menceritakan riwayat dan tradisi kami secara imersif. Kini presensi butik tunggal Longines telah mencapai 60 butik di seluruh dunia. Namun, tak hanya berfokus pada butik tunggal di region-region penting, kami juga ingin menambahkan volume penjualan lewat peritel multibrand di wilayah-wilayah lainnya. Sementara, penjualan via platform e-commerce merepresentasikan presensi daring Longines sebesar 5-10%, tergantung regionnya. Kami harus mempertahankan sinergi yang baik antara distribusi luring dan daring, karena keduanya memiliki faedah penting bagi strategi penjualan.

Pada awal tahun ini, Longines merilis ulang model Pilot Majetek nan ikonis. Adakah cerita menarik di balik nama Majetek?

Terdapat dua cerita yang patut disoroti. Pertama adalah bezel berotasi yang dimiliki Pilot Majetek. Mulanya bezel berotasi memang dikembangkan khusus untuk jam tangan pilot. Bahkan, kami adalah brand pertama yang berinovasi dengan bezel berotasi—telah dipatenkan sejak tahun 1935—dan disematkan pada Longines Czech Pilot Majetek. Jam ini sangat istimewa karena benar-benar digunakan oleh para pilot Cekoslovakia saat mengudara menuju Britania Raya untuk menghindari wilayah yang ditempati pasukan Jerman. Pada caseback terdapat tulisan “Majetek (nama pilot)”. Kata Majetek sendiri berasal dari bahasa Cekoslovakia yang berarti ‘kepunyaan’. Cerita kedua yang patut disoroti adalah kerumitan di balik pembuatannya, yaitu tantangan dalam mengkreasikan case kedap air yang terintegrasi dengan bezel berotasi temuan Longines tersebut. Longines baru-baru ini meluncurkan Mini DolceVita. 

Apa sajakah yang ingin Anda soroti dari koleksi anyar tersebut?

Kami selalu berupaya untuk merepresentasikan nilai-nilai Longines dalam setiap penawaran. Ialah elegansi, tradisi, dan presisi. Tahun ini kami merayakan sekaligus memberi penghormatan terhadap histori Longines lewat perilisan Mini DolceVita. Longines memperkenalkan jam tangan dengan case kotak pertama kali pada tahun 1916, kemudian case persegi panjang di tahun 1918. Dengan Mini DolceVita, kami menggabungkan kedua siluet tersebut yang menghasilkan case hampir kotak. Desain unik pada bagian bracelet jam ini pun terinspirasi oleh gaya arsitektur dari era 1930-an, seperti yang terlihat pada susunan bata pada gedung Empire State di New York.

Apakah Anda mempunyai pesan untuk kolektor horologi di Indonesia yang ingin membeli jam tangan Longines pertama mereka?

Longines adalah jam tangan paling tepat untuk dibeli dengan penghasilan pertama Anda atau sebagai hadiah dari orang tua Anda selepas menyelesaikan studi. Anda mendapatkan jam dengan kekayaan riwayat dan tradisi dengan nilai proposisi yang baik, karena Longines akan menemani Anda semasa hidup dan untuk generasi selanjutnya. Kami juga memiliki ragam tipe penawaran dalam berbagai kategori. Salah satu daya tarik Longines yang membedakannya dari brand lain ialah penawaran seimbang antara jam tangan klasik dan olahraga, serta antara jam tangan pria dan wanita. Faktanya, Longines memang memiliki kekuatan dan kemahiran yang merata di seluruh aspek tersebut. Saya yakin, siapapun dapat menemukan iterasi Longines yang tepat untuk mengekspresikan minat dan kepribadiannya. 

 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh