Skip to main content

NOSTALGIC COMEBACK: Menyoroti riwayat dan kelahiran kembali dari salah satu koleksi historis Breitling: Premier

Menyoroti riwayat dan kelahiran kembali dari salah satu koleksi historis Breitling, Premier.

Arinta Wirasto 

Meski memiliki ragam spesialisasi dalam portofolionya, Breitling terasosiasi erat dengan beberapa hal yang mendefinisikannya. Salah satunya adalah chronograph yang disempurnakan oleh tiga pendiri Breitling lintas generasi: Léon, Gaston, dan Willy. Jika Leon Breitling berjasa mematenkan chronograph untuk jam saku pada tahun 1893, legasi tersebut diwariskan kepada sang anak, Gaston yang memodifikasi tampilan chronograph pada jam tangan lewat tombol tekan di posisi angka 2 di tahun 1915. Selanjutnya, cucu dari sang pendiri Willy melanjutkan temuan tersebut dengan mematenkan tombol tekan kedua di posisi angka 4 pada tahun 1934. 

Seluruh inovasi sontak menjadi cikal bakal dari chronograph modern—dengan dua tombol yang mengapit crown—di kemudian hari. Khususnya setelah dirangkum dalam koleksi Premier yang dirilis perdana pada tahun 1943. Selanjutnya, Premier terus berevolusi dengan estetika rupawan tanpa melupakan kaidahnya sebagai stopwatch. Termasuk di antara pembaruannya adalah tombol pengatur persegi yang terdapat pada Premier Ref. 760 (1943) dan tombol pengatur bundar pada Premier Ref. 777 (1945). Selain versi chronograph reguler, Willy Breitling juga menelurkan versi lain dengan fitur berbeda sebagai bagian dari Premier: Datora dengan fungsi split-seconds dan Duograph (dengan tampilan kalender dan fase bulan).

Pasca berlalunya era ‘40-an yang menyaksikan masa keemasan chronograph, lini Premier mengalami hiatus panjang sebelum bereinkarnasi di bawah kepemimpinan Georges Kern (bergabung dengan Breitling di tahun 2017). Sesungguhnya di awal dekade ‘90-an, Premier sempat dihidupkan kembali lewat iterasi dengan numeral bergaya Arab. Meski begitu, gaung dan kepopuleran model tersebut tidak terlalu terdengar di ranah horologi. 

Premier dilahirkan kembali pada tahun 2018 lewat koleksi bertajuk Premier B01. Selain tampilan elegan yang mengacu pada langgam desain sang leluhur, performa prima di balik koleksi ini ditenagai oleh Calibre B01. Sebagai in-house movement pertama yang dimanufaktur oleh Breitling pada tahun 2009, mesin tersebut menjadi tonggak pencapaian lain dari sang brand dan sudah sepantasnya diintegrasikan di dalam koleksi Premier terbaru. 

Premier kembali berevolusi lewat enam iterasi bertajuk Premier Heritage pada tahun 2021 yang kian disoroti berkat model Datora dan Duograph yang juga diperbarui. Di samping visi inovatif Georges Kern, terdapat tokoh tersohor lain yang ikut andil dalam konsepsi Premier Heritage. Ialah Fred Mendelbaum, kolektor Breitling—juga didaulat sebagai konsultan bagi sang brand—yang berperan besar dalam menelusuri arsip koleksi ikonis tersebut dari masa lalu. Maju cepat ke tahun 2023, Fred kembali mengekspresikan kecintaannya pada Breitling seiring dirilisnya koleksi teranyar Breitling Premier B01 Chronograph. Kali ini lewat sebuah buku bertajuk Premier Story: Breitling Premier, Duograph, and Datora yang ditulisnya dan menuturkan legasi dan seluk beluk chronograph ciptaan Breitling secara imersif. “Sebagai ahli histori Breitling, saya merasa sangat bersyukur atas kesempatan yang saya dapat untuk menelusuri arsip ekstensif sang brand, serta koleksi dan dokumen berharga milik anak dari Willy Breitling, Gregory,” tutur Fred mengenai buku tersebut. “Menulis buku ini benar-benar mimpi yang menjadi kenyataan bagi kolektor manapun!” lanjutnya. 

THE PREMIER’S JOURNEY REVEALED IN A NEW BOOK

The launch of the new Premier B01 Chronograph 42 coincides with the publication of Premier Story, part three of the Watch Stories series that chronicles some of the world’s most celebrated timepieces. Author Fred Mandelbaum, Breitling’s official brand historian and the world’s foremost Premier collector, guides readers through Willy Breitling’s ultimately successful (but often tumultuous) quest to take the humble chronograph out of the aircraft cockpit and onto the wrists of the world’s style-setters — a journey that began 80 years ago. “As Breitling’s historian, I’ve been living the wildest dreams of any passionate collector,” says author Fred Mandelbaum. “For this book, I was granted unprecedented access to the Breitling company archives and, through Gregory Breitling, son of founding-father Willy Breitling, was privileged to gain access to the family collection of watches, documents, photographs, and a wealth of personal memories.” Illustrated in exquisite photography, including rarely-before-seen vintage watches, Premier Story not only provides an account of the Premier’s history, but also offers invaluable resources for collectors on how to authenticate vintage models, along with how to date pieces by hands-shape, logo, and serial number. A chapter on calibers reveals the evolution of the Premier movements from 1943 to 2023, with content connected by QR code to videos of the intricate mechanisms in action. Premier Story is a fascinating — and exceptionally practical — deep dive into one of history’s great watches.

ELEGANT METAMORPHOSIS

Sepak terjang Breitling dalam mengkreasikan ragam tipe chronograph sehingga menjadi kiblat chronograph modern dewasa ini, dan tonggak pencapaian yang ditorehkan melalui koleksi Premier. Berikut delapan momen signifikan Breitling Premier dari masa ke masa.

1907

Jam saku berkomplikasi chronograph yang dipatenkan oleh Léon Breitling, Vitesse, dengan skala takimeter yang mampu mencatat waktu mulai dari 15 - 250 km dan menjadi asal usul sistem tiket denda lalu lintas (speeding ticket). 

1915

Salah satu jam tangan chronograph pertama Breitling dengan tombol pengatur di posisi angka 2 yang menyoroti tiga fungsi chronograph sekaligus—memulai, menyetop, reset—serta dilengkapi mekanisme pencegah kerusakan ketika pengaturan waktu via crown dilakukan.

1945

Premier Ref. 777 berdiameter 38 mm dengan lingkar penghitung menit sub-second, serta ditenagai mesin manual Calibre 175 yang dimanufaktur oleh Venus, perusahaan movement tersohor—kelak diakuisisi oleh Valjoux—yang sinonim dengan chronograph pada masanya.

1946

Tampilan Venus Calibre 178—berbasis Calibre 175—yang tersingkap dari bagian caseback berkonsep openwork milik salah satu iterasi Premier. Hampir seluruh penawaran berkomplikasi chronograph Breitling di masa itu, termasuk lini Top Time, Chronomat, Navitimer, Unitime, dan Duograph.

2009 (foto

Calibre B01, movement pertama berkomplikasi chronograph yang dimanufaktur oleh Breitling di La Chaux-de-Fonds dan menjadi nama dari koleksi Premier yang lahir kembali pada tahun 2018. Sang mesin turut mengemban sertifikat COSC berkat akurasi sekelas—bahkan lebih tinggi dari—chronometer

2018

Iterasi dengan dial panda dari koleksi Premier yang dilahirkan kembali oleh Georges Kern. Terdapat tiga versi lainnya dalam koleksi tersebut: tampilan hari dan tanggal; chronograph dengan tiga subdial; dan dial tanpa komplikasi. 

2021

Model Duograph dalam koleksi Premier Heritage mengusung profil lebih ramping dari pendahulunya dalam diameter 40 mm. Iterasi ini dilengkapi oleh skala takimeter dan jarum split-seconds—dikenal dengan sebutan rattrapante—untuk mengukur dua waktu yang tengah berjalan secara bersamaan.

2023

Salah satu dari enam ekstensi teranyar Premier dengan case bermaterialkan emas merah muda 18 karat dalam diameter 42 mm, serta ditenagai oleh movement B01 yang dimodifikasi dengan bobot berosilasi berukuran pipih dan cadangan daya hingga 70 jam lamanya. 

MODERN INTERPRETATIONS

Premier mengandung dua arti berbeda: perdana dan terdepan. Baik secara harfiah maupun figuratif, keduanya merepresentasikan DNA Premier sebagaimana mestinya. Tak ayal, koleksi tersebut senantiasa berevolusi dengan kemasan modern yang mengukuhkan statusnya sebagai favorit di kalangan kolektor. Bertepatan dengan hari jadi koleksi Premier yang ke-80 tahun, Breitling kembali menelurkan interpretasi ulang dari koleksi Premier bertajuk Premier B01 Chronograph 42.  

Sekilas koleksi ini memang terlihat menyerupai Premier Heritage. Bagaimanapun, keduanya masih berakar pada versi orisinal dan memiliki segenap karakter yang sama dalam hal estetika. Sebut saja tombol pengatur persegi nan pilih, lingkar penghitung bergaya uni-compax (dijajarkan secara horizontal), numeral bergaya Arab, dan bezel bersiluet melengkung. Bahkan, beberapa warna seperti salmon oranye, hitam, dan krem turut diadaptasi ulang untuk rilisan anyar ini. Meski masih mengusung konsep monokrom pada dial, kini Premier hadir dengan tambahan spektrum palet yang semakin memesona. Terdapat enam pilihan dial yang disajikan bagi Anda: hitam, biru, British Racing Green (hijau), krem, dan salmon oranye dalam stainless steel case, serta krem dengan case bermaterialkan emas merah muda 18 karat. Perbedaan signifikan lainnya dari Premier Heritage terdapat pada tampilan tanggal di posisi angka 6, meski fungsi serupa turut diaplikasikan pada salah satu iterasi Premier B01 rilisan tahun 2018. 

Sesuai nama sang koleksi, case yang menaungi masing-masing dial hadir dalam diameter 42 mm dan dilengkapi oleh lingkar penghitung menit di posisi angka 3 dan lingkar penghitung detik di posisi angka 9. Tak sekadar cantik, jam ini hadir dengan jarum penunjuk waktu dan menit berlapis Super-LumiNova® untuk meningkatkan keterbacaan dalam cahaya temaram. Masing-masing versi disempurnakan oleh dua opsi temali yang dapat Anda pilih sesuai selera: stainless-steel bracelet tujuh keping dengan pengait bergaya kupu-kupu; temali kulit aligator warna hitam, cokelat keemasan, atau cokelat yang disenadakan dengan dial. Kami rasa, kehadiran dua opsi temali adalah upaya Breitling untuk meremajakan koleksi Premier lebih jauh ke arah kontemporer. 

Jika Premier Heritage ditenagai oleh Calibre B09 dengan mekanisme manual wind, kinerja prima Premier B01 Chronograph 42 dihasilkan oleh Calibre B01, mesin otomatis serupa milik rilisan tahun 2018. Untuk mengakomodasi profil pipihnya, mesin ini telah dimodifikasi dengan bobot berosilasi yang dirampingkan. Selain mengemban sertifikat COSC, mesin ini turut membanggakan akurasi hingga +6/-4 per hari dan cadangan daya hingga 70 jam lamanya. Dengan tampilan elegan nan serbaguna dan fungsionalitas mutakhirnya, kami yakin jam ini mampu memikat siapapun yang melihatnya pada pandangan pertama. Baik pengikut setia Breitling, maupun segmentasi apapun yang dituju sang brand

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load