Skip to main content

SELUK BELUK TENTANG MOVEMENT OTOMATIS

Mesin yang terus menerus memberi.

Bagi penggemar jam tangan mekanis, ketertarikan terhadap mesin otomatis biasanya menjadi awal dari segalanya. Sebelumnya, kebanyakan orang beranggapan bahwa jam tangan mekanis memerlukan sebuah trik manipulasi agar bisa berdetak. Meskipun pemikiran ini tidak sepenuhnya salah, mereka akan dikejutkan oleh fakta bahwa terdapat deretan jam tangan yang digarap sepenuhnya dari komponen mekanis dan akan terus berfungsi selama dikenakan oleh sang pemakai. Baterai pun tidak diperlukan.

Saat mendengar hal ini, rasanya seperti pertama kali mengetahui fakta menakjubkan bahwa Mariah Carey tidak hanya menyanyikan, namun juga menciptakan lagu All I Want For Christmas Is You. Bagaimana mungkin dua fitur mengagumkan yang mampu meraup banyak keuntungan datang dari satu entitas tunggal? Saking uniknya, hal ini pun terasa sangat ketinggalan zaman sekaligus sangat modern di saat yang sama.

Berbicara tentang movement otomatis (kerap disebut juga sebagai self-winding movement), gagasan di balik jam tangan mekanis yang tidak memerlukan winding secara manual dengan tangan sudah muncul di abad ke-18. Beberapa abad kemudian, movement otomatis kini sudah menjadi keharusan dalam pembuatan jam tangan kontemporer, bahkan melampaui movement manual (kerap disebut juga sebagai hound-wound movement) dalam hal kuantitas produksi, variasi pilihan, serta turut dipersenjatai oleh berbagai inovasi teknis. Berikut adalah rangkuman singkat dari penemuan paling berpengaruh dalam sejarah horologi, yaitu movement otomatis.

MAKING IT ‘AUTOMATIC’

Berbeda dengan movement manual yang mengharuskan Anda untuk mengisi daya jam tangan dengan memutar crown secara manual, movement otomatis mampu menampung energi pada jam tangan hanya melalui gerakan pergelangan tangan. Perlu Anda ketahui bahwa transmisi energi—daya dari barel mainspring menuju bagian escapement yang mengatur dorongan penggerak roda gigi—pada movement otomatis dan movement manual adalah proses yang serupa.

Akan tetapi pada movement otomatis, terdapat sistem lain yang melakukan proses winding selain lewat crown. Fungsi ini hadir dalam wujud masa berayun (dikenal sebagai bobot osilasi atau rotor) yang melekat pada mekanisme winding bergerigi. Alhasil, selama jam ada di pergelangan tangan dan bergerak secara alami, rotor pun akan ikut bergerak untuk memutar mainspring pada movement secara otomatis.

THE PIONEERS

Sulit untuk menemukan jawaban pasti tentang penemu pertama dari movement otomatis, namun terdapat beberapa watchmaker termasyhur yang masuk ke dalam daftar kandidat pionir versi kami. Di antaranya adalah Joseph Tlustos (1773) dan Joseph Gallmayr (1776) yang memaparkan teori tentang mekanisme otomatis, namun tidak ada bukti konkret untuk mendukung temuan mereka. Selanjutnya, dan lebih dapat dipercaya, Abraham-Louis Perrelet (1777) dan Abraham-Louis Breguet (1780) yang merancang mekanisme self-winding untuk jam tangan saku di mana pengisian daya secara otomatis diwujudkan Perrelet lewat bobot osilasi yang bergerak ke atas dan ke bawah, sedangkan Breguet mengkreasikan sistem perpétuelle dengan rotor platinum berbentuk panah. Lain halnya jika berbicara tentang jam tangan pertama dengan movement otomatis. Titel prestisius ini akan jatuh kepada John Harwood, pria asal Inggris yang mematenkan sistem dengan beban berosilasi dan bumper pegas yang dapat menggerakan mainspring di tahun 1923.

INDUSTRY STANDARDS

Terdapat banyak sekali movement otomatis saat ini. Mulai dari kreasi terbaik dari manufaktur tersohor dengan in-house movement, seperti Rolex, Vacheron Constantin, dan Patek Philippe, hingga movement pabrikan yang tersebar luas di industri horologi, baik dalam wujud orisinalnya, maupun telah dimodifikasi. Dari semua itu, terdapat empat movement otomatis yang paling lazim ditemukan berkat rekam jejak dan reputasinya dalam hal ketangguhan, keandalan, dan proposisi nilai yang telah terbukti. Di antaranya adalah ETA 2824 yang sudah diproduksi selama hampir lima dekade; Selita SW200, alternatif nyaris serupa dengan ETA 2824-2 yang berdasar pada paten cetakan biru movement ETA yang telah kadaluarsa; Miyota 9015, pilihan terjangkau yang menjadi favorit para brand mikro; dan Seiko NH35A, mesin tangguh yang juga mengusung mekanisme serupa dengan ETA 2824-2 dan Sellita SW200.

EVERGREEN INNOVATIONS 

Seperti semua mekanisme jam tangan, movement otomatis memiliki tempat tersendiri dalam dunia horologi modern berkat perkembangan pesatnya. Sejumlah brand pun terus berupaya untuk membuat movement otomatis dengan wujud lebih ramping, andal, dan efektif. Para manufaktur juga kerap bereksperimen dengan konstruksi dan desain pada rotor dan sistem winding, serta memperkenalkan material anyar layaknya ball bearings keramik untuk meningkatkan efisiensi pengisian daya.

Pemegang standar terbaik untuk movement otomatis jatuh kepada Rolex. Sang manufaktur menciptakan movement Oyster Perpetual di tahun 1931, lengkap dengan rotor dua arah yang seketika menjadi standar bagi penampilan dan kinerja movement otomatis modern. Di tahun 1950, IWC memperkenalkan sistem winding system bertajuk Pellaton yang terdiri atas cakram berbentuk hati, bar bergoyang, dan pelat berbentuk bascule pada arloji yang berisi roda-roda berliku dan berayun secara bergantian, dan mekanisme tuas ganda untuk proses winding yang lebih mulus dan efisien. Selain itu, ada juga beberapa inovasi berbasis rotor yang membuat movement terlihat lebih ramping dan memikat. Di antaranya adalah rotor mikro yang dipatenkan pada tahun 1954 oleh Universal Genève dan rotor peripheral winding yang dipatenkan oleh pembuat jam asal Swiss, Paul Gosteli di tahun 1950-an.

 

Klik di sini untuk #BacaDiRumahAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load