Skip to main content

THE YEAR IN REVIEW: Menyingkap sejumlah tren besar yang mewarnai dunia horologi tahun 2023

Seiring berakhirnya tahun 2023, kami meninjau sejumlah tren besar yang mewarnai industri pembuatan jam tangan.

Ditulis oleh Darren Ho

Tahun ini menandai terjadinya begitu banyak huru hara dalam dunia pembuatan jam tangan. Mulai dari LVMH Watch Week, Watches & Wonders, hingga Geneva Watch Days, terdapat ratusan kreasi yang membuat kami terkagum-kagum. Berikut adalah beberapa sorotan tren yang meninggalkan kesan mendalam tahun ini, dan akan berlanjut menjadi pakem pembuatan jam tangan di kemudian hari. 

Artistry and Whimsicality

Keceriaan adalah tren yang kerap berlalu-lalang tahun ini, dan pembuat sensasi terbesar adalah Rolex Oyster Perpetual Day-Date 36 dengan dial penuh emoji bertemakan kesadaran penuh. Sang manufaktur memilih untuk menginjeksikan energi Milenial ke dalam sebuah iterasi klasik sebagai pernyataan bahwa Rolex bukanlah brand yang mudah ditebak. Di samping reaksi yang diperoleh, kami yakin terdapat tingkat craftsmanship tinggi di balik pembuatan sang jam. Imaji puzzle multiwarna pada dial diwujudkan lewat teknik champlevé enamel, sebagai metafora bahwa hidup adalah teka-teki yang harus dipecahkan. 

Bukan satu-satunya, Louis Erard dan Konstantin Chaykin berkolaborasi untuk membuat iterasi teranyar dari Time Eater yang dinamakan Time Eater II: From Dusk to Dawn. Desain iterasi ini mengacu pada seorang raksasa dalam puisi The Odyssey karya penulis asal Yunani, Homer, dan lukisan Chronos karya Francisco Goya (yang digambarkan sedang memakan anak laki-lakinya). Desain jam ini terasa jauh lebih menyeramkan dari pendahulunya, dengan dial hitam berfinis guilloché, jarum penujuk berwarna menyerupai darah, indikator jam berupa mata merah di posisi angka 12, dan cakram detik berbentuk mulut dengan gigi bertaring. 

Tak luput dari perhatian, jam tangan wanita pun mendapatkan panggungnya sendiri. Chanel mengawinkan perhiasan dan pembuatan jam tangan pada Première Robot. Jam ini mengusung kombinasi material yang terdiri dari emas kuning, keramik, serta titanium hitam berhiaskan oniks dan berlian. Tangan sang robot hadir dalam wujud huruf C ikonis sang brand dengan dial berpernis hitam. Sejumlah iterasi tersebut mengukuhkan bahwa dunia pembuatan jam tangan bisa saja menjadi jenaka selagi tetap mempertahankan kepiawaian mumpuni dalam hal teknis. 

The Colour Purple

Satu tahun belakangan, terdapat satu warna yang mencuat sebagai pencetus tren: ungu. Mulai dari ungu terung, lilac, hingga plum, Anda dapat menemukan variasi spektrumnya bermunculan pada dial sejumlah kreasi rumah horologi mainstream, maupun independen. Tren ini bermula dari lanskap fashion mewah beberapa tahun silam, lalu diadopsi pada street style, dan berakhir pada pergelangan tangan sosok-sosok ternama sebelum menjadi populer di dunia pembuatan jam tangan kelas atas.

Salah satu brand tersohor yang turut berpartisipasi dalam tren warna ungu di tahun ini adalah Patek Philippe dengan Ladies Calatrava Ref. 4997/200R-001. Dinaungi oleh case emas merah muda dengan tekstur yang merekah dari pusat dial ungu beludru—dicapai lewat aplikasi pernis sebanyak 50 lapis—jam ini menyuguhkan desain elegan nan kontemporer. 

Beberapa tahun terakhir, Audemars Piguet telah mengadopsi warna ungu pada dua model sekaligus. Ialah nuansa ungu gelap bagi Code 11.59 by Audemars Piguet dan plum cerah pada tapisserie dial milik RD#3 Royal Oak—dengan tourbillon movement ultra pipih. Selanjutnya, Jaeger-LeCoultre, Bulgari, dan pemain independen MB&F turut menyadur warna ungu bagi sejumlah iterasi yang dilengkapi oleh variasi desain—berhiaskan berlian atau polos—serta ragam tipe komplikasi. Safir ungu dan batu semi-berharga ametis pun serta-merta mendulang popularitas tinggi. 

Tren warna ungu tak sekadar mendominasi sektor jam tangan wanita. Sejak melansir DEFY 21 dengan komponen movement ungu yang dicapai lewat teknik galvanisasi beberapa tahun lalu, Zenith terus melengkapi katalog sang koleksi. Tahun ini, Zenith memperkenalkan DEFY Extreme E Energy X Prix dengan mekanisme chronograph berfrekuensi tinggi dan aksen ungu pada dial dan temalinya. 

High End Microbrands

Tahun ini menyaksikan reinkarnasi dari sejumlah model berlangganan (subscription) sarat tradisi dalam lanskap horologi. Grup LVMH menghidupkan kembali dua nama tersohor dalam dunia pembuatan jam tangan, Daniel Roth dan Gerald Génta. Di samping itu, label kedua Gerald Génta, Gerald Charles, turut meraih momentum lewat terjual habisnya sejumlah model hanya beberapa saat setelah diluncurkan. Penawaran dari kedua nama legendaris tersebut hanya dapat didapatkan lewat sistem subscription. Artinya, Anda perlu membayar uang jaminan terlebih dahulu untuk memesan jam tangan tertentu. Dalam terminologi modern, kami menyebutnya crowdfunding atau urun dana. Tetapi, istilah tersebut mungkin terdengar terlalu sederhana untuk sistem penjualan yang melibatkan kreasi-kreasi seharga enam digit. 

Nama prominen seperti Jean-Claude Biver dan anaknya Pierre turut mendulang popularitas setelah berhasil menjual habis rilisan pertama mereka. Terdapat juga pendatang baru yang memantik perhatian para kritik dan pemerhati horologi. Ialah Simon Brette, pria muda berusia 35 tahun—dengan portofolio karier di beberapa brand horologi independen tersohor—yang mulai santer terdengar setelah merilis kreasi pertamanya. Iterasi tersebut adalah sebuah mahakarya—dengan dukungan 12 nama besar di belakangnya—dan telah terjual habis hingga beberapa tahun ke depan. 

Para pemain microbrand dengan kisaran harga aksesibel, seperti Atelier Wen dan Christopher Ward perlahan turut mendobrak pasar mainstream. Lain halnya dengan microbrand prestisius yang justru menarik atensi segmentasi kelas atas. Termasuk di antaranya adalah nama-nama besar yang disokong oleh grup horologi besar, seperti Ferdinand Berthoud. Mereka bermain dengan aturan tersendiri, merilis produk dalam linimasa yang dirasa pas, dan membanderol harga tinggi bagi kreasi-kreasi langka, namun begitu didambakan. 

A Green Campaign

Para rumah horologi berlomba-lomba menerapkan prinsip go green atau bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Mulai dari menggunakan material daur ulang, mengurangi limbah produksi dan konsumsi energi, hingga mencoba meraih sertifikat B Corp. Berikut segelintir manifestasinya: Panerai memproduksi kemasan ramah lingkungan; koleksi Concept Watch dari Corum dinaungi oleh case bermaterialkan titanium daur ulang; lewat penggunaan Lucent Steel dan emas bersertifikat Fairmined, Chopard menjadi pelopor kebijakan ramah lingkungan dalam pembuatan jam tangan dan perhiasan. 

Langkah-langkah tersebut pun menjadi tolok ukur bagi sejumlah brand lainnya. TAG Heuer adalah salah satu pemain horologi terbesar di pasaran yang telah beralih ke berlian buatan laboratorium bagi jam tangan perhiasan. Rolex dan Blancpain aktif menggalakkan misi konservasi lautan dengan komitmen untuk melindungi 30 persen dari lautan pada tahun 2030. Hal ini dilakukan lewat pendirian kawasan perlindungan laut, serta menanam hutan bakau pada garis pantai di Filipina dan Indonesia. Sementara itu, Breguet mendemonstrasikan keseriusannya melalui keterlibatan dengan Race for Water Foundation, serta merilis koleksi Marine yang didedikasikan khusus untuk organisasi tersebut. 

Transparansi pun tak kalah penting, terlihat dari upaya sejumlah brand seperti Breitling yang telah merilis laporan keberlanjutan mereka setiap tahun. Untuk sebagian orang, standar ESG (Environmental, Social, dan Governance) mungkin terlihat seperti kegiatan administrasi semata, alih-alih sebuah misi transformatif. Faktanya, standar tersebut harus diterapkan oleh seluruh perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap aktivitas yang dilakukan. Meski begitu, sejatinya jam tangan memang bersifat keberlanjutan karena dapat terus-menerus diwariskan ke generasi berikutnya. 

Old School, New School

Jam tangan bekas pakai telah menjadi hal mainstream di lanskap ritel horologi dewasa ini. Tak sekadar iterasi yang diburu oleh puritan horologi di situs lelang, sejumlah brand mulai mengintegrasikan strategi untuk jam bekas pakai dalam aktivitas bisnis mereka. Ini adalah bagian dari upaya mengendalikan spekulasi harga oleh peritel jam bekas pakai. Pasalnya, tahun lalu harga pasaran di pasar bekas pakai melambung tinggi seiring meningkatnya permintaan terhadap beberapa model tertentu. 

Vacheron Constantin, Cartier, dan sejumlah brand Richemont Group telah mencanangkan strategi untuk jam bekas pakai sejak lama. Tetapi sekitar satu tahun belakangan, para rumah horologi lainnya mulai menerapkan strategi serupa. Hal ini dilakukan dengan mengakuisisi ulang model-model lawas yang berumur di atas 20 tahun dan telah berhenti diproduksi. Rolex memperkenalkan program Certified Pre-Owned kepada para peritel dan berhasil menjadi pakem harga bagi model-model lawas yang masih diincar. Peritel lain di seluruh dunia juga mendirikan inventaris jam bekas pakai berkualitas dengan garansi, untuk meyakinkan para kolektor terkait orisinalitas produk.

Tentu saja masih banyak jam-jam lawas yang terdapat di pasar lelang dan memecah rekor penjualan beberapa tahun terakhir. Christie’s dan Phillips adalah dua platform lelang terbesar dengan koleksi jam lawas terbaik hingga saat ini. Termasuk dalam koleksi menakjubkan yang tersedia adalah Patek Philippe Calatrava berkomplikasi perpetual calendar milik mendiang Andy Warhol dan koleksi ‘One-of-a-Kind' dari Christie’s. Jika belum pernah berpartisipasi dalam sebuah lelang jam tangan sebelumnya, mungkin sekarang adalah saat yang tepat untuk mencoba. 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load