Skip to main content

THE YEAR IN REVIEW: Tren yang Mendominasi Dunia Horologi 2022

Tahun ini menandai masa kejayaan dari sektor watchmaking kelas atas, di tengah terjadinya sejumlah krisis dunia.

 

Meski tahun 2022 diwarnai oleh berbagai peristiwa global yang berujung pada ketidakstabilan, tampaknya industri produk mewah tak banyak terpengaruh. Richemont mengumumkan peningkatan penjualan sebanyak 24 persen dalam semester pertama tahun keuangannya dengan pertumbuhan tertinggi pada sektor fashion dan aksesori, sedangkan keuntungan terbesar diraup oleh divisi perhiasan. Tak disangka, penjualan di pasar Amerika dan Asia justru melonjak seiring meredupnya strategi yang dicanangkan bagi pasar Eropa oleh sejumlah brand. Tergugah oleh fenomena ini, kreativitas dalam pembuatan jam tangan pun kian meroket. Alhasil, tahun ini menandai masa kejayaan ranah watchmaking dengan kemunculan sejumlah tren yang menggawangi jajaran rilisan anyar. 

Good As Gold

Rasanya masih segar dalam ingatan saat jam tangan dengan tampilan bersahaja mendominasi lanskap horologi beberapa tahun silam. Namun, jam tangan bermaterialkan emas perlahan mengambil alih dan kian merekah bak pesatnya pertumbuhan TikTok sebagai platform konten berskala global. Jam tangan bermaterialkan emas kuning dan emas merah muda senantiasa bermunculan seiring digandrunginya desain retro oleh kolektor jam tangan belia. Selain itu, lonjakan tren ini terjadi berkat para penggemar yang berkiblat pada gaya selebritis dengan jam tangan bermaterialkan emas milik mereka. 

Berubahnya perilaku pelanggan kelas atas dan keinginan untuk mengekspresikan diri turut memengaruhi kepopuleran jam tangan bermaterialkan emas. Begitu juga dengan menipisnya ketersediaan jam tangan bermaterialkan baja di pasaran dan melambungnya harga jam tangan bekas pakai. Kondisi ini pun mendorong pembeli untuk beralih ke jam tangan bermaterialkan emas. Sesuai pengamatan Cartier, daya beli pelanggan kian meningkat sehingga meningkatkan pesona dari jam tangan bermaterialkan emas. 

Menanggapi tren ini, Vacheron Constantin pun merilis tiga iterasi teranyar dalam koleksi Overseas dengan tingkat komplikasi medium hingga tinggi, masing-masing memiliki daya pikat berbeda bagi para kolektor. Hublot meluncurkan sejumlah model dalam warna emas kuning–digambarkan CEO sang brand, Ricardo Guadalupe sebagai “salah satu material inti dari sang brand”–dan diyakini sebagai rilis tematik terbesar tahun ini. Tissot pun turut menyelami tren ini dengan melansir PRX 35 mm bermesin kuarsa dan mengusung lapisan emas kuning pada seluruh permukaannya. Bisa dibilang, 2022 merupakan tahun kejayaan warna emas.

Compact Models

Suatu ungkapan yang disepakati oleh para kolektor dan watchmaker ialah “semakin kecil (ukuran jam tangan), semakin baik.” Lantas, saga perampingan ukuran jam tangan kelas atas pun terus berlanjut dengan pengecualian terhadap Rolex Deepsea Challenge–berdiameter 50 mm dan memperingatkan kami akan Panerai Mare Nostrum.

Model-model berdiameter 40 mm lainnya pun membuntuti dan menyusut lebih jauh lagi, seperti iterasi anyar dari Tissot PRX yang hadir dalam diameter 35 mm. Meskipun masih dianggap terlalu besar dari segi ukuran, kebanyakan jam tangan dengan kisaran diameter antara 36 mm dan 39 mm sesungguhnya didesain sebagai model uniseks yang cocok bagi pria maupun wanita. 

Sebagaimana ukuran yang menyusut, begitu juga dengan keleluasaan dalam mendesain bagian dial. Untuk mengatasi hal ini, jam tangan berukuran ramping cenderung tanpa mengusung komplikasi rumit. Alhasil estetikanya pun begitu diperhitungkan, dengan percikan warna yang serta merta menarik atensi. 

Kemudian, Cartier meluncurkan iterasi terbaru Tank Louis tahun ini dalam versi kecil dan besar, (meskipun diameter 25,5 mm dan 33,7 mm terhitung relatif untuk disebut besar). Impresi elegan dipancarkan pada bagian case dengan movement kuarsa untuk versi baja. Sementara itu, model bermaterialkan emas yang ditenagai oleh Calibre 1917 MC menyoroti efek tiga dimensi pada bagian dial yang menambah kesempurnaannya.

Longines merilis model bertajuk Spirit dengan diameter 37 mm dengan sentuhan aviasi nan kental, hanya saja lebih minimalis. Tahun ini, iterasi dengan dial berwarna sampanye hadir bak angin segar, melengkapi pendahulunya yang tersedia dalam nuansa biru dan hitam. 

Tudor pun memiliki sejumlah penawaran menarik dalam diameter 39 mm, mulai dari koleksi Ranger–ditenagai oleh MT5402–yang dibuat untuk memperingati hari jadi ke-70 British North England Expedition, hingga Black Bay Pro, model GMT yang terinspirasi oleh Ref. 1655 Explorer II. 

Integration Reign

Permintaan akan atribut olahraga kasual kian membludak seiring denganmeningkatnya gaya athleisure di ranah fashion. Hal ini pun ditanggapi oleh sejumlah brand papan atas di dunia horologi untuk berlomba-lomba menciptakan jam tangan olahraga mewah.

Jam tangan dalam kategori ini pun terus berevolusi semenjak tahun ‘70-an hingga menjadi salah satu model dengan temali terintegrasi yang berfungsi sebagai penunjang gaya sang pemakai. Namun seiring berjalannya waktu, “temali terintegrasi” perlahan digantikan oleh ragam tipe material lain–seperti karet, tekstil, hingga kulit–untuk mengakomodasi gaya modern pelanggan masa kini. 

Bisa dibilang, manifestasi gaya sporty-chic berhasil dicapai oleh reinkarnasi Vacheron Constantin 222–rilisan tahun 1977–yang diluncurkan pada momentum hari jadi ke-222 sang brand. Jam tangan ikonis kreasi Jorg hysek ini memang memiliki daya pikatnya tersendiri, terutama saat diperkenalkan kembali dalam versi berdiameter 37 mm dan lapisan emas kuning di seluruh permukaannya. 

Zenith merilis koleksi baru, Defy Skyline, dengan detail serupa dengan pendahulunya. Meski demikian, terdapat beberapa perubahan seperti modifikasi bezel bersiluet oktagon ke dodekagon (segi dua belas), peningkatan diameter menjadi 41 mm, dan ditambahnya lingkar penghitung detik di posisi angka 9. Selanjutnya, bagian temali terintegrasi kini dilengkapi dengan fitur quick release yang mengizinkan sang pengguna untuk melakukan lepas pasang dengan mudah.

SRado memperkenalkan iterasi teranyar dari jam tangan selam Captain Cook yang mengusung keramik hipoalergenik berteknologi tinggi pada bagian case dan temali. Dengan bobot ringan dan tampilan nan serbaguna, tak ayal model bergaya sporty-chic dengan performa luar biasa ini mendulang popularitas dalam waktu singkat.

Green and Bear It

Warna hijau berhasil menggeser popularitas warna biru dan menjadi favorit terbaru. Seiring meningkatnya kebebasan berekspresi di ranah pembuatan jam, momen ini pun dimanfaatkan sejumlah desainer untuk mengeksplorasi ragam warna secara lebih leluasa. Alhasil, dial yang mengusung palet cerah dengan warna hijau di garis depan sebagai opsi komersil paling populer tahun ini. 

Mulai dari perpaduan biru dan hijau, hingga British Racing Green–kerap didapati pada mobil balap asal Inggris, berbagai brand senantiasa berkompetisi untuk mengadopsi sang warna ke dalam penawarannya. Di samping itu, warna ungu dan merah pun turut bermunculan dalam dunia horologi, meski tidak mendapatkan atensi layaknya warna hijau. 

Jaeger-LeCoultre meluncurkan interpetasi teranyar dari Reverso yang memadukan karakter artistik koleksi ikonis tersebut dengan deretan karya seniman tersohor. Model paling menonjol adalah Reverso Tribute Enamel Hokusai 'Amida Falls', dibuat sebagai penghormatan terhadap lukisan woodblock legendaris dalam format miniatur berteknik enamel. Kreasi lain yang tak kalah mengagumkan–namun jarang diekspos–adalah koleksi Hidden Treasures, membanggakan lukisan enamel karya Gustav Klimt, Gustave Courbet, dan Vincent Van Gogh. Hasilnya adalah teknik dekorasi guilloché enamel nan rumit pada dial berwarna hijau. 

Setelah melansir Oyster Perpetual dengan dial berwarna hijau tahun lalu, Rolex kembali hadir dengan iterasi teranyar dari Oyster Perpetual GMT-Master II dengan bezel berwarna serupa. Hadir dengan konsep left-hand, bagian crown dan pelindung dari jam ini diposisikan di sisi kiri untuk mengakomodasi para kidal. Jam yang menjadi salah satu penawaran paling istimewa di pasaran ini mengusung konsep dwiwarna hijau dan hitam—belum pernah terlihat dalam koleksi GMT-Master II sebelumnya. 

Omega memperkenalkan edisi baru Speedmaster Moonwatch dalam emas Moonshine—dihasilkan dari perpaduan perak dan palladium—yang memberi efek pekat pada permukaannya. Warna hijau yang diusung pada bagian dial dan bezel dicapai melalui proses pengembangan warna di atas permukaan keramik dengan tingkat kerumitan tinggi. Jika jam berlapis emas ini terkesan terlalu ‘parlente’ untuk Anda, model Speedmaster ‘57 bermaterialkan baja dapat menjadi alternatif yang tak kalah memesona. 

IWC bergerak selangkah lebih maju dengan memformulasikan warna bersama Pantone yang dinamakan IWC Woodland. Acap kali digunakan dalam model bermaterialkan keramik, rona hijau gelap ini mengambil inspirasi dari setelan aviasi Top Gun sekaligus hutan boreal kala musim panas. Rona hijau pada Pilot’s Watch Chronograph TOPGUN Edition “Woodland” dimanifestasikan pada case bermaterialkan keramik dengan gaya monoblok, juga di bagian bezel dan dial. 

Rilisan anyar Glashütte Original tahun ini diwarnai oleh enam model yang bernaung dalam koleksi Seventies Chronograph Panorama Date dan SeaQ Panorama Date, keduanya mengusung dial bergradasi hijau. Di samping itu, sang brand turut meluncurkan koleksi Seventies Chronograph dalam dial berwarna biru kehijauan yang diproduksi secara terbatas. 

TAG Heuer turut melansir dua iterasi baru dalam lini Aquaracer Professional 300 dan 300 Date dengan ragam spektrum hijau yang mengingatkan siapapun terhadap desiran lembut ombak pada pesisir pantai, serta rindangnya pepohonan pinus di sekelilingnya. 

Gem-packed With Excitement

Tidak sekadar diciptakan untuk wanita, kini para pria pun terlihat nyaman mengenakan jam tangan berhiaskan permata. Peluang ini ditanggapi oleh berbagai rumah perhiasan besar dengan mengembangkan segmen pasar yang sempat menjadi alternatif semata di masa lampau tersebut. Saat ini, jam tangan berhiaskan batu permata berhasil mengukuhkan presensi di arus utama horologi. 

Pengaturan permata adalah keahlian yang begitu rumit. Mulai dari pencarian batu permata yang tepat untuk setiap jam, penentuan posisi, pengeboran, hingga pengaturan diaplikasikan menggunakan tangan.  Tentunya, dibutuhkan kemahiran mumpuni untuk menguasai masing-masing tekniknya. Jika terdapat kesalahan dalam pengaturan posisi permata, jam tangan pun harus dirombak ulang dan proses pembuatan harus dimulai dari awal.

Rilisan terbaru Patek Philippe di tahun 2022 diwarnai oleh model berhiaskan permata dalam sejumlah referensi ikonis sang brand, seperti Ref. 6300/4006-001, Ref 6300/401G-001 Grandmaster Chimes, Ref. 5271/11P-01, serta Ref. 5271/12P-010 dengan chronograph dan kalender abadi. Kedua referensi pertama hadir dengan bezel berhiaskan dua baris berlian berpotongan baguette, juga  lug dan pengait bertahtakan batu permata. Sementara, kedua referensi terakhir mengusung bezel berhiaskan satu baris batu safir atau rubi berpotongan baguette pada bagian bezel, lug, dan pengait. 

Roger Dubuis–yang selalu menjadi inisiator–memadukan ragam batu permata pada bagian bezel dan penanda jam sehingga membentuk spektrum pelangi pada jam Excalibur MT. Komponen bridge pada movement–tersingkap indah di bagian dial–turut mengusung palet serupa, hanya saja dengan teknik finishing NAC. Selanjutnya, impresi mewah turut diperkuat oleh bagian lug berhiaskan berlian berpotongan soliter. 

Tak ketinggalan, Rolex pun memberi pembaruan nan mewah pada sejumlah model yang bernaung dalam lini Profesional. Salah satunya adalah model Yacht-Master 40 dengan bezel berhiaskan berlian dan batu safir berwarna biru, merah muda, dan perak. Menurut Rolex, inspirasi terbesar di balik model ini adalah fenomena aurora borealis. Namun, bagi kami inspirasi jam lebih mengacu terhadap kilauan cahaya yang menerpa permukaan laut. 

Complex Ideas

Setelah periode senggang di mana sejumlah brand berfokus pada rilisan sederhana, tahun 2022 menandai bangkitnya gairah para watchmaker untuk menciptakan movement dengan kreativitas tanpa batas. Tahun ini menyaksikan kreasi-kreasi spektakuler lintas kategori yang berhasil diakui di ajang Grand Prix d'Horlogerie de Genève. 

Jika beberapa brand seperti Laurent Ferrier dan Atelier Akrivia memilih untuk menyempurnakan estetika pada bagian dial, serta dekorasi movement, segenap nama besar lainnya justru menyuguhkan kemahiran teknis yang terfokus pada presisi dalam pembuatan jam tangan. 

Kodo Constant-Force Tourbillon menyaksikan dobrakan mutakhir dari Grand Seiko dengan perpaduan memikat antara tourbillon dan mekanisme constant-force. Keduanya bekerja di atas suatu torsi untuk mencapai efisiensi cadangan daya dan konsistensi demi kinerja isokronisme yang lebih optimal. 

Breguet memiliki interpretasi unik terhadap jam tangan travel. Bertajuk Hora Mundi, jam tangan yang bernaung dalam koleksi Marine ini mengedepankan visual memesona untuk mengimbangi kinerja self-winding movement nan mutakhir. Bagian dial menampilkan corak ombak yang mengusung teknik guilloché di atas latar bernuansa biru abyssal. Lapisan kedua terdiri dari plat safir yang melindungi cakram safir berilustrasi meridian dan benua. Meskipun tidak terpampang nyata, pesona sesungguhnya dari jam tangan ini terletak pada lompatan instan antara waktu lokal dan waktu setempat, serta fitur tampilan tanggal.

Terakhir–namun tidak kalah penting–adalah Chopard L.U.C Full Strike Sapphire yang dihadirkan bersamaan momentum hari jadi ke-25 Chopard Manufacture. Interpretasi ini menyuguhkan komplikasi minute repeater pertama yang mengusung material kristal safir pada komponen gong dalam movement, case, crown, dan dial sehingga Anda dapat menikmati indahnya koreografi komplikasi tersebut dari 360 derajat.

Klik di sini untuk #BacaDiRumahAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load