Skip to main content

THRIVING THIRTY: Dua wajah baru Audemars Piguet Royal Oak Offshore sebagai perayaan hari jadi ke-30 tahun.

Audemars Piguet rilis dua wajah baru Royal Oak Offshore sebagai perayaan hari jadi sang koleksi yang ke-30 tahun.

Sesuatu yang dimulai sebagai kontroversi biasanya memiliki dua takdir yang cukup pasti. Pertama, dinilai tidak relevan oleh khalayak hingga dilupakan dan tenggelam ditelan bumi. Kedua, dibicarakan banyak orang yang terprovokasi atas gagasan disruptifnya hingga diterima sebagai sebuah revolusi. Takdir kedua adalah yang terjadi pada Audemars Piguet Royal Oak Offshore di tahun 1993.

CONTROVERSIAL KICKOFF

Sebagai spin-off yang dikreasikan secara khusus untuk merayakan hari jadi Royal Oak ke-20 tahun, Royal Oak Offshore menuai kontroversi di kalangan pencinta versi orisinal buatan Gérald Genta dari tahun 1972. Dengan proporsi ekstra besar dan kombinasi multi-material yang tak biasa, Royal Oak Offshore tampak sangat kontras dibandingkan dengan leluhurnya yang begitu elegan. Di tengah kebimbangan para kolektor yang belum siap mengadopsi ‘The Beast’—julukan yang masih menempel hingga kini—ke dalam koleksinya, penggemar jam tangan berusia muda justru menyambut estetika disruptif tersebut dengan antusiasme tinggi.

“Gagasan di balik Royal Oak Offshore adalah mengkreasikan jam tangan pencetus tren di tahun 1990-an yang terinspirasi oleh offshore powerboat racing dan diperuntukkan bagi generasi lebih muda. Skandal yang muncul saat momen perilisannya selaras dengan estetika eksesif yang diusungnya,” ujar Raphaël Balestra selaku Manager Heritage & Archives di Audemars Piguet.

Seakan menjadi kesempatan untuk tampil berbeda dari generasi sebelumnya sembari menikmati keistimewaan craftsmanship khas Audemars Piguet, kehadiran Royal Oak Offshore justru membuka babak baru bagi sang brand hingga menjadi sebuah pilar produk terpisah dari Royal Oak. Layaknya sebuah kanvas, Royal Oak Offshore menjadi wadah kreativitas bagi para artisan di balik brand basis Le Brassus tersebut.

Material eksperimental yang biasa digunakan dalam bidang aerospace dan maritim, seperti titanium, keramik, karet, Kevlar®, cermet, dan karbon tempa, telah melengkapi penawaran bermaterialkan stainless steel dari Royal Oak Offshore. Koleksi ini juga berjasa atas terlahirnya motif dial ‘Méga-Tapisserie’ dan telah memiliki portofolio kolaborasi nan ekstensif dengan tim olahraga pelayaran, atlet basket, hingga deretan selebritis, seperti Arnold Schwarzeneger dan Jay Z. 

NEW FACES

Tahun 2023 menandai 30 tahun eksistensi Royal Oak Offshore di jagad horologi. Setelah lebih dari 230 iterasi dalam case berdiameter 27 hingga 48 mm, Audemars Piguet rupanya belum kehabisan ide untuk mengejutkan para penggemar horologi. Untuk merayakan momen spesial ini, brand berusia 148 tahun tersebut meluncurkan berbagai referensi baru bermaterialkan keramik. 

Memiliki karakteristik yang anti gores sekaligus rapuh, keramik menyajikan tantangan yang tak mudah bagi manufaktur Audemars Piguet dalam proses pengerjaannya. Untuk mencapai permukaan sarat detail yang mengusung kombinasi finis satin dan polished khas sang brand, ketelitian dan kepiawaian tingkat tinggi didemonstrasikan secara maksimal oleh para artisan Audemars Piguet. 

Sebagai penghormatan kepada model pertama Royal Oak Offshore dari tahun 1993, Audemars Piguet menghidupkan kembali elemen-elemen khas versi orisinal tersebut sembari menyuguhkan beberapa pembaruan. Bernama Royal Oak Offshore Selfwinding Chronograph, jam tangan istimewa ini hadir dalam tampilan monokrom dengan case 42 mm dan bracelet bermaterialkan keramik hitam, serta dial hitam bermotif ‘Petite Tapisserie’ yang dilengkapi oleh jarum dan aksen warna putih nan kontras.

Royal Oak Offshore Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph Ref. 26622CE.OO.D062CA.01
Royal Oak Offshore Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph Ref. 26622CE.OO.D062CA.01

Sebuah edisi terbatas turut dirilis dalam momen spesial ini, yaitu Royal Oak Offshore Selfwinding Flying Tourbillon Chronograph yang hanya tersedia sebanyak 100 unit saja. Perpaduan warna dan material unik lewat case keramik hitam dan rubber strap—dapat digonta-ganti—warna hijau menjadikan jam ini kian istimewa. Karya ini sekaligus menandai evolusi dari Calibre 2967 yang kini hadir dalam arsitektur open-work

Kedua karya istimewa tersebut semacam mengkonfirmasi kreativitas melimpah para artisan Audemars Piguet yang terus menemukan cara untuk mendorong batasan, mendobrak aturan, serta menciptakan formula baru dalam menggabungkan tradisi dan inovasi.

 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia


Ditulis oleh