Skip to main content

TIME AND SPACE: Velove Vexia berbagi cerita seputar keseimbangan hidup dan aksi filantropi yang dijalankannya

Aktris ini berbagi cerita seputar keseimbangan hidup dan aksi filantropi yang dijalankannya.

Ditulis oleh Arinta Wirasto

Tahukah Anda bahwa di balik sejumlah pencapaian Velove Vexia di dunia hiburan, sesungguhnya ia tidak pernah bermimpi untuk menjadi sorotan publik? Sewaktu kecil ia pernah bercita-cita menjadi astronot, atau setidaknya bekerja di NASA. Beranjak remaja, ia menyangka akan bekerja di korporat. Selain itu, ia juga pernah bermimpi untuk bekerja di bidang sains. Tak heran, di balik pesona ceria Velove, ia memang seorang introvert yang lebih suka berdiam diri di rumah untuk membaca buku. Kini ia memilih untuk menghidupkan sejumlah impiannya terdahulu lewat sang jendela dunia. 

Saat bertatap muka dengan Velove di acara Piaget Maison of Extraleganza di Bangkok, kami sempat berbincang bersama selagi mengagumi 120 kreasi istimewa yang dipamerkan. Dalam kesempatan tersebut, ia berbagi cerita mengenai satu mimpi lain yang berhasil ia realisasikan. Ialah dengan berkecimpung di aksi-aksi kemanusiaan untuk memenuhi panggilan hidupnya. Namun di tengah padatnya aktivitas sebagai aktris dan filantropis, ia tetap memprioritaskan kesejahteraan diri dan keseimbangan hidup. Kepada CROWN, Velove menuturkan menuturkan nilai-nilai yang ia anut sebagai pakem kehidupan, serta pandangannya terhadap Piaget.

Adakah prinsip tertentu yang Anda junjinggi dalam hidup?

Saya amat mengutamakan keseimbangan hidup. Semakin bertambah usia, skala prioritas pun akan berubah. Saya percaya bahwa menjadi produktif tidak mengharuskan Anda untuk mengorbankan kesehatan jiwa. Pada dasarnya, setiap pribadi memiliki anggapan dan prinsip berbeda. Ada yang memilih untuk memberi 100% waktu dan tenaganya untuk pekerjaan. Banyak juga yang berambisi tinggi hanya karena ingin mencari validasi eksternal. Semuanya lumrah, tergantung pribadi masing-masing. Saya sendiri tidak ingin terjebak dalam situasi tersebut dan mengorbankan hidup personal saya demi menjadi ‘Velove sang figur publik’. 

Bagaimana Anda mendefiniskan kebebasan?

Pertama adalah memilih apa yang ingin Anda gunakan dengan waktu. Kapan Anda mau berkarya, kapan Anda mau memiliki me time, dan kapan Anda ingin menghabiskan waktu dengan orang-orang tercinta. Menurut saya, tidak semua orang memiliki privilese kebebasan waktu. Tentunya harus ada keseimbangan juga dengan produktivitas. Jika terlalu bebas, kehidupan bisa menjadi tidak terstruktur. Selain itu, kebebasan untuk menjadi diri sendiri juga tak kalah penting. Ialah menjadi pribadi yang autentik tanpa membutuhkan validasi dan terpengaruh oleh tekanan eksternal.

Bisakah Anda berbagi tentang proses pertimbangan dalam memilih proyek yang akan dijalankan? 

Saya cukup selektif dalam memilih proyek. Hal terpenting adalah membaca skrip untuk menghidupkan karakter yang saya perankan. Terkadang ada beberapa narasi yang menggugah, tetapi ternyata tidak beresonansi dengan prinsip saya. Rasanya sulit untuk melihat diri saya memerankan karakter tersebut dan saya tidak ingin memaksakannya. Saya percaya bahwa sang skrip yang akan memilih pemerannya, bukan sebaliknya.

Ceritakan tentang tentang aksi kemanusiaan yang Anda lakukan.

Saya selalu ingin berbagi dengan sesama dan berkontribusi terhadap masyarakat. Akhirnya saya bergabung dengan UN Women untuk menjalankan program-program yang berfokus pada pemberdayaan wanita. Para perempuan memiliki peran besar untuk kemajuan generasi berikutnya. Sayangnya, tidak semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang menjadi penyintas Kekerasan Dalam Ruang Tangga (KDRT). Dengan membantu kesejahteraan mereka, saya percaya bahwa kita akan membantu generasi-generasi berikutnya dengan lebih baik.

Apa tanggapan Anda mengenai Piaget?

Piaget memiliki cara untuk mengkreasikan perhiasan kelas atas secara menyenangkan. Sebagai ilustrasi, perhiasan kelas atas memiliki asosiasi erat dengan pelanggan wanita lanjut usia. Namun, Piaget begitu piawai menciptakan karya transformatif yang mudah dipadankan dengan tampilan apapun hingga mengubah persona sang pemakai. Contohnya, jika perhiasan kelas atas Piaget dikenakan dengan gaun malam, saya akan terlihat bak seorang Madam. Tetapi jika menggunakan blazer, tampilannya akan terlihat modis. 

Apakah preferensi Anda dalam memilih perhiasan?

Saya menyukai perhiasan simpel nan bersahaja untuk dikenakan sehari-hari. Namun, dalam acara tertentu tentu saja saya ingin tampil istimewa dan tidak berkeberatan untuk menggunakan perhiasan mencolok. Seperti pada High Jewelry Gala Dinner di Bangkok yang saya hadiri, di mana saya berkesempatan mengenakan perhiasan kelas atas Piaget dengan intrikasi detail dan batu permata yang amat memesona. 

 

Klik di sini untuk #BacaDiManaAja edisi terbaru dari CROWN Indonesia

 


Ditulis oleh

End of content

No more pages to load